Rabu, 19 Jun 2019

Jalan Terjal Rekonsiliasi Nasional

admin Sabtu, 25 Mei 2019 12:08 WIB
Warga masih trauma dengan unjuk rasa berujung kerusuhan. Meski sudah berlalu, aksi di depan Bawaslu dan beberapa lokasi lainnya di Jakarta pada 22 Mei lalu, menancap kuat di ingatan publik. Padahal situasi berangsur telah pulih, walau polisi masih tampak bersiaga.

Tak bisa dipungkiri, aksi unjuk rasa rusuh tersebut dipicu dinamika Pemilu 2019. Ada kubu yang tak terima dengan hasilnya dan menuding telah terjadi kecurangan. Klimaksnya setelah rekapitulasi suara nasional yang dilakukan KPU.

Kubu yang tak terima hasil tersebut secara terbuka menyatakan penolakan dan disiarkan secara luas, baik di media massa maupun media sosial. Massa pendukungnya pun turun ke jalan sebagai bentuk kekecewaan. Mereka percaya pernyataan tim dari calonnya bahwa telah terjadi kecurangan.

Kemarahan massa pendukung tersebut ternyata dimanfaatkan pihak lain, sesuai hasil investigasi polisi. Dalam kerumunan, sesuai teori sosial, maka emosi massa sangat labil dan mudah terprovokasi. Itu sebabnya saat ada mengajak berbuat anarkis, massa terpancing.

Untuk menghentikan aksi menjelma lebih brutal, maka pemimpin harus turun tangan. Itu sebabnya, saat ada imbauan agar pendukungnya kembali ke rumah, ternyata didengar dan dipatuhi. Itulah budaya panutan yang masih mengakar di masyarakat Indonesia.

Bagi warga, pemimpin mereka adalah panutan dalam sikap, perkataan dan tindakan. Orang Indonesia cenderung mengikuti tanpa banyak kritik, apa yang disampaikan idolanya. Dalam politik berlaku hal yang sama, saat Pemilu 2019, ketika hanya ada dua kandidat kuat, maka mau tak mau, masyarakat ikut terbelah.

Itu sebabnya jiwa besar para pemimpin sangat dibutuhkan di Indonesia. Apabila mereka memilih berkonflik, bukan hanya dirinya yang terlibat, tetapi para pendukungnya juga. Jika narasi yang didengungkan kebencian, maka bakal terancam persatuan dan kesatuan bangsa.

Itu sebabnya langkah Prabowo bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla merupakan langkah besar, setelah jalan terjal antara kontestan Pemilu. Diharapkan itu menjadi langkah awal terbangunnya rekonsiliasi nasional. Selanjutnya, dua calon presiden bisa bertemu dan membicarakan masalah kebangsaan.

Rekonsiliasi nasional bakal mudah terwujud jika para pemimpin berjiwa besar. Ada optimisme, Jokowi dan Prabowo bakal merintis jalan rekonsiliasi tersebut. Dengan demikian, urusan membangun negeri bisa dilanjutkan dengan kekuatan yang lebih besar, karena bangsa ini kembali merajut persatuan. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments