Kamis, 21 Nov 2019

Indonesia Tanpa Persatuan Tidak Ada Apa-apanya

bantors Senin, 28 Oktober 2019 13:35 WIB
Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memeringati Hari Sumpah Pemuda. Dengan ikrar ini lahir identitas baru sebagai satu bangsa, satu tanah air dan satu bahasa. Indonesia tidak memilih paham fasis, yang menghapus perbedaan.

Persatuan bukan berarti tidak berbeda, melainkan kesadaran bahwa kita bersama-sama untuk mencapai tujuan yang sama. Sebab perbedaan adalah anugerah Tuhan, yang sifatnya 'given'. Tak seorang pun bisa memilih akan lahir di keluarga mana, dengan kulit warna tertentu, etnis dan apa agama orangtuanya.

Jadi sejak awal, keragaman itu adalah fakta yang tak terbantahkan, yang tak perlu dipersoalkan, apalagi menjadi sumber pertengkaran. Tahun 1928, jauh sebelum Indonesia merdeka, sudah ada pengakuan dan kesadaran tentang keberagaman, yang harus bersatu. Sebab tujuan besar sebagai bangsa hanya bisa dicapai jika ada persatuan dan kesatuan.

Sejarah mencatat pelopor persatuan adalah kaum muda. Mereka berpikir dan bertindak melampaui zamannya. Pengalaman sebagai bangsa terjajah mendorong munculnya kesadaran untuk bersatu untuk merebut kemerdekaan.

Suasana kebatinan pendiri negara ini bisa dilihat dalam risalah BUPKI (Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Betapa saat itu ada perdebatan keras, namun berakhir dengan konsensus. Memang para pemimpin bangsa ini memiliki jiwa besar, yang melihat kepentingan yang lebih besar.
Setelah Indonesia merdeka, ada kesan rasa persatuan sebagian anak bangsa makin luntur. Ada yang menganggap hanya diri dan kelompoknya sebagai pemilik sah negeri ini. Sebagian kaum muda terpapar paham radikalisme yang menolak keberagaman agama dan etnis.

Gerakan memisahkan diri dari Indonesia sudah beberapa kali terjadi. Mulai pemberontakan PRRI/Semesta, DI/TII hingga pemberontakan RMS. Pernah ada aksi separatis dari GAM (Gerakan Aceh Merdeka), yang berakhir damai. Hingga kini masih ada perlawanan dari OPM (Organisasi Papua Merdeka). Satu-satunya yang berhasil memisahkan diri melalui referendum adalah Timor Timur, yang sekarang menjadi Timor Leste.

Negara yang memiliki pengalaman pahit bubar adalah Uni Sovyet. Dari negara adidaya hancur berkeping-keping menjadi 15 negara. Yugoslavia terbagi menjadi enam negara. Cekoslowakia terpisah menjadi dua negara. Alasannya bukan hanya soal politik, tetapi ada persoalan etnis dan keyakinan yang berbeda. Di sisi lain ada negara yang etnis dan agamanya identik, namun memiliki negara yang berbeda, Korea Utara dan Korea Selatan.

Pada momen Sumpah Pemuda ini, kaum milenial perlu mengambil peran merevitalisasi kembali nilai-nilai persatuan. Sebaiknya dikemas dengan pendekatan digital untuk menggelorakannya kembali. Indonesia tanpa persatuan tidak ada apa-apanya. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments