Rabu, 03 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Imlek dan Spirit Kebhinnekaan

Sabtu, 01 Februari 2014 15:36 WIB
Manusia tidak akan lepas dari budayanya. Berangkat dari sini, keberhasilan pembangunan terwujud jika konsep pembangunan itu diselaraskan dengan budaya masyarakatnya. Untuk itu pendekatan budaya dalam pembangunan akan mempercepat proses pembangunan menyatu dengan masyarakatnya.

Berangkat dari sinilah mungkin pemerintah membuat hari libur nasional untuk menyambut Tahun Baru Imlek. Atribut budaya Tionghoa meminjam istilah Juergen Habermars bebas di ruang publik (public sphere) sebagai kearifan budaya negara kita.

Saudara kita saat ini dari etnis Tionghoa sedang merayakan Imlek. Imlek yang penuh dengan corak budaya juga merupakan bagian dari budaya nasional. Perayaan Imlek dari suku Tionghoa yang mendapat pengakuan resmi dari pemerintah menjadi upaya pembangunan bangsa menuju kebhinekaan yang sesungguhnya. Kearifan budaya harus jadi modal sosial pembangunan sebuah bangsa.

Kebhinekaan yang ada saat ini merupakan realitas sosial yang harus jadi perekat. Budaya yang lahir dari tiap suku adalah anugerah yang sangat besar karena dengan budaya yang berbeda semua masyarakat akan saling mendukung dengan penuh persaudaraan.  Kebebasan yang diberikan kepada etnis Tionghoa merupakan angin segar dalam memperkuat kebhinekaan.

Bahkan saat pemerintah mencabut SBKRI bagi etnis Tionghoa ini merupakan pembauran yang sangat luar biasa bagi masa depan pluralisme di negara ini. Semua warga negara RI menyambut gembira bahwa SBKRI telah dicabut oleh pemerintah, dan Tahun Baru Imlek telah diakui sebagai hari libur nasional.

 Ada beberapa poin yang perlu kita catat dari pengakuan Tahun Baru Imlek sebagai salah satu perayaan besar yang mendapat hukum nasional.

Pertama, bahwa manusia tidak bisa lepas dari budayanya. Konsep dasar budaya adalah kompleksitas ide, gagasan, pola pikir yang berasal dari diri manusia dan menjadi milik diri manusia (Koenjaraningrat : 1970).

Jadi, Imlek sebagai budaya Tionghoa adalah hasil atau bentuk pola pikir dari saudara kita Tionghoa. Mengapa kita harus memisahkan diri dari budaya? Bukankah konsep dasar ideologi Pancasila itu merupakan hasil dari budaya nenek moyang kita? Mulai dari sila pertama sampai sila kelima merupakan hasil budaya nenek moyang kita dulu.

Hanya rumusannya secara hukum formal sebagaimana yang kita lihat sekarang ini belum tampak. Tahun Baru Imlek sebagai budaya etnis Tionghoa harus kita hargai. Karena tidak mungkin manusia bisa dipisahkan dari budaya.

Kedua, ada sebuah pesan bahwa kita diciptakan semuanya dalam nuansa perbedaan. Ingat perbedaan di negara-negara Afrika bahkan Yugoslavia mengarah pada perang saudara.

Mereka lupa potensi perbedaan mereka sangat bagus untuk membangun bangsa. Haruskah karena perbedaan kita harus saling perang-perangan dan bunuh-bunuhan? Perbedaan harusnya jadi pemersatu.

Ketiga, demokrasi harus dibangun di atas perbedaan. Kita harus menerjemahkan perbedaan pendapat bukan hanya sebatas debat dengan kata-kata. Tetapi lebih luas dari situ, ruang demokrasi harus dibangun di atas fundasi keberagaman budaya.

Makanya, konsep dasar politik bagi  negara yang plural adalah perbedaan. Demokrasi harus membuka ruang bagi warganya untuk bisa hidup dalam satu kemasan.

Ibarat makanan gado-gado yang sumbernya dari berbagai macam tumbuhan, sangat enak untuk kita nikmati. Imlek bagian dari budaya nasional yang lahir dari etnis Tionghoa untuk memperkuat spirit kebhinekaan dengan rasa persaudaraan. Gong Xi Fa Cai  2565. (#)


T#gs Imlek
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments