Selasa, 07 Apr 2020

Ikhtiar Menyelamatkan Bahasa Daerah

Tajuk
Jumat, 28 Februari 2020 13:05 WIB
beritasumut.com

Ilustrasi

Data Badan Bahasa Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud mencatat sebanyak 25 bahasa daerah dengan status terancam punah. Bahasa daerah tersebut mayoritas berada di wilayah Indonesia bagian timur. Kriteria bahasa daerah terancam punah yaitu semua penutur berusia 20 tahun ke atas dan jumlahnya sedikit.

Penyebabnya sangat beragam, antara lain generasi tua yang menguasai bahasa tersebut tidak berbicara kepada anak-anak atau di antara mereka sendiri. Ketika mereka meninggal dunia, maka jumlah penutur makin sedikit. Bukan tak mustahil jika akhirnya bahasa daerah tersebut musnah.

Sedikitnya ada 11 bahasa daerah yang sudah punah. Angka ini bertahan sejak 2017 lalu. Semuanya berasal dari Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara. Selain itu, terdapat enam bahasa yang dikategorikan kritis, yakni penuturnya berusia di atas 40 tahun dan jumlahnya sangat sedikit. Semuanya berasal dari Papua, Maluku, Maluku Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Sebenarnya Indonesia bagian timur kental akan budaya. Namun ragam budaya yang ada justru jadi salah satu alasan bahasa daerah di sana rentan punah. Penyebabnya tiap kampung bahkan tiap desa itu memang beda-beda bahasanya, dengan jumlah penutur yang sedikit pula.

Hanya 13 bahasa di Nusantara yang penuturnya di atas satu juta jiwa. Ada banyak bahasa daerah yang penuturnya di bawah 100 orang. Ke-13 bahasa daerah yang penuturnya di atas satu juta orang adalah bahasa Minangkabau, Batak, Rejang, Lampung, Sunda, Makassar, Aceh, Jawa, Bali, Sasak, Bugis, Madura, dan Melayu. Dari aspek distribusi, bahasa daerah di Indonesia banyak tersebar di Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, dan sedikit di Jawa dengan 20 bahasa.

Sebagai ikhtiar menyelamatkan bahasa daerah dari kepunahan, pemerintah memprioritaskan penyerapannya ke dalam Bahasa Indonesia. Penyerapan ini akan memperkaya kosa kata Bahasa Indonesia. Adapun kosa kata Bahasa Indonesia saat ini berjumlah kurang lebih 120.000, sementara sublemanya ada 270.000.

Jumlah kosakata Bahasa Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan Bahasa Inggris yang berjumlah lebih dari 500.000 kosakata. Tahun ini, pemerintah menargetkan 58.000 kosakata baru yang diambil dari bahasa daerah. Mekanismenya tetap mengacu pada standar Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Untuk menyelamatkan bahasa yang bermasalah agar tidak ikut punah, perlu ada program yang komprehensif dari pemerintah. Mesti ada kerja sama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah setempat dan lembaga pendidikan misalnya universitas setempat untuk mendatangi tiap daerah dan melihat permasalahan yang ada.

Masyarakat pun perlu dilibatkan dalam pelestarian bahasa karena mereka yang menggunakannya. Sejauh ini, ada les untuk beberapa bahasa yang bermasalah karena masyarakat tidak ingin bahasa tersebut mati. Tetapi, untuk kasus bahasa yang memiliki sangat sedikit penutur, pelestarian sangat sulit dan butuh kerja keras serta dukungan banyak pihak.

Namun yang berada di garda terdepan adalah bagaimana orangtua mengajarkan bahasa daerah ke anak-anaknya, meskipun bahasa tersebut hanya digunakan untuk percakapan sehari-hari di rumah. Memang ada upaya mengajarkan melalui sekolah dalam bentuk muatan lokal. Tapi yang lebih efektif, adalah belajar bahasa daerah di dalam keluarga dan komunitas. (**)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments