Kamis, 20 Jun 2019

Hoaks Mendelegitimasi Pemilu

Admin Jumat, 04 Januari 2019 12:43 WIB
Awal tahun 2019, Indonesia diguncang hoaks tentang tujuh kontainer kertas suara yang sudah tercoblos di Tanjung Priok Jakarta. Berita bohong ini beredar dengan cepat di media sosial. Untuk meyakinkan, nama stasiun televisi nasional dicatut, yang kemudian diklarifikasi tak ada disiarkan berita tentang hal itu.

Orang-orang yang mengedarkannya di media sosial berdalih hanya bertanya atau mengonfirmasi. Tugas polisi yang akan mengungkap kebenarannya. Apakah ada kesengajaan atau memang benar karena ingin bertanya. Rasanya janggal konfirmasi, tetapi dilakukan di media sosial.

Terlalu cepat mengambil kesimpulan ada dalang dari hoaks ini. Polisi Indonesia sudah terlatih menangani kejahatan siber. Sebab meski telah dihapus di akun media sosial, jejak digitalnya masih tetap ada. Adakah unsur pidana dalam hoax ini akan segera terungkap.

Polisi mesti serius mengusut hoax kertas suara tercoblos ini. Sebab sebenarnya yang diserang adalah legitimasi pemilu dan rasa percaya publik terhadap KPU sebagai penyelenggara. Jika hoax tersebut dipercaya, maka bisa saja akan mendelegitimasi pemilu.

Kasus ini sebaiknya menjadi prioritas, baik dari sisi waktu dipercepat, maupun dari sisi pembuktian. Sebab pemilu tinggal empat bulan lagi. Publik harus diyakinkan pemilu akan diselenggarakan secara jujur dan adil, serta jauh dari kecurangan.

Fakta sebenarnya, kertas suara masih belum dicetak. Sekarang malah dalam proses tender dalam menentukan siapa yang dipercaya memperbanyaknya. Tentu saja tak seperti dokumen biasa, kertas suara memiliki tingkat keamanan tersendiri yang diawasi secara ketat.

KPU mesti menjadikan hoaks kertas pemilu ini sebagai momentum meyakinkan publik untuk memercayakan penyelenggaraan pemilu terhadap institusinya. Betapa krusialnya masa-masa pencetakan kertas suara hingga pendistribusiannya. Jika lalai dan lengah, dengan segera akan dijadikan alat mendelegitimasi pemilu, bukan sekadar menyerang kinerja KPU.

Publik sudah seharusnya makin cerdas membedakan mana hoaks dan fakta. Orang yang suka menyebar hoax, suatu waktu akan menuai akibatnya. Apalagi sebagai tokoh publik, modal utamanya adalah kepercayaan. Jika publik sudah tak percaya, maka karier politiknya sudah kiamat.

Itu sebabnya edukasi terhadap publik harus makin gencar. Media mainstream mesti berada di garis terdepan menangkal berita bohong. Jadi publik memiliki referensi manakala ingin menguji suatu informasi di media sosial, apakah masuk kategori hoax atau fakta. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments