Senin, 13 Jul 2020

Tajuk

Hentikan Tindakan Biadab

Rabu, 24 Juni 2020 11:07 WIB
republika.co.id

Ilustrasi

Pembunuhan sadis dan mengerikan terjadi di Kota Medan kemarin. Dua bocah abang beradik tewas mengenaskan dibunuh ayah tirinya. Suatu pembunuhan memang bukan hal yang biasa, tetapi ketika korbannya adalah anak-anak, kejadian ini sungguh sangat luar biasa. Apalagi bila alasan pelaku membunuh korban cuma masalah sepele.

Pelaku pembunuh ditangkap sehari kemudian. Sesuai rekonstruksi, penyebabnya memang masalah sepele karena kedua bocah minta dibelikan es krim, namun tidak diberi karena pelaku tak punya uang. Lalu dia tersinggung ketika kedua bocah mengatakan ayah tirinya pelit dan ingin ibunya mencari ayah baru. Atau ada motif lainnya? Harus digali lebih jauh untuk mencari kebenarannya lebih lanjut. Hal ini perlu dilakukan agar semua pihak tahu mencari solusi supaya permasalahan serupa di masa mendatang tidak terjadi lagi.

Alasan sepele karena ucapan anak-anak ini sehingga pelaku tega membunuh dua bocah tak berdosa itu harus ditelusuri secara serius, agar bisa diteliti apa penyebab dan bagaimana dampak berikutnya di masyarakat.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mencatat semakin banyak anak-anak menjadi korban tindakan bernuansa kebencian, perundungan (bullying) dan aksi kekerasan di dunia maya karena pandemi virus corona.

Tiap tahun, lebih semiliar anak mendapat kekerasan dan angka tersebut meningkat. Bila tanpa akses pendukung, sebagian anak terjebak dalam kekerasan di rumah tanpa ada peluang untuk meminta pertolongan karena sekolah ditutup akibat merebaknya virus corona.

Menanggapi laporan tersebut, Kepala Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta kepastian semua pihak untuk menghentikan dan menghilangkannya. “Tidak pernah ada alasan bagi aksi kekerasan terhadap anak-anak,” tegasnya.

PBB menginformasi, secara keseluruhan satu miliar anak menderita akibat kekerasan fisik, seksual atau psikologis setiap tahun, khususnya di tempat dimana negara gagal membuat program-program pendukung. Isolasi akibat Covid-19 semakin memperburuk keadaan.

Kasus di atas bisa juga sebagai dampak pandemi Covid-19 seperti yang diinformasikan PBB. Pelaku yang tidak memiliki uang mungkin beberapa bulan ini mengalami kesulitan ekonomi dan tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Apalagi memenuhi permintaan sang bocah membelikan es krim. Ini terkesan sepele, namun bagi yang tak punya uang sama sekali, hal ini sebagai masalah besar. Belum lagi menyangkut faktor psikis pelaku yang bisa jadi selama ini sudah tujuh keliling memikirkan banyak persoalan.

Perlu kajian dan penelitian bagaimana dampak #dirumahaja bagi anak, remaja dan orangtua secara ekonomi, sosial budaya, politik maupun psikologi. Sehingga segala aturan pemerintah dalam penanggulangan pandemi Covid-19 bisa terukur dan lebih sesuai dengan kondisi masyarakat.

Selain akibat terdampak pandemi, tak tertutup kemungkinan faktor penyalahgunaan obat-obat terlarang seperti narkoba sebagai penyebab terjadinya pembunuhan itu. Biasanya, sesorang pengguna narkoba akan nekat melakukan tindakan apa saja bila sudah tidak bisa mengonsumsinya lagi. Di sini penyidik juga harus memeriksa pelaku apakah sebagai pengguna narkoba atau tidak.

Masalah narkoba saat ini sangat kompleks dan mengerikan, seperti ada mafia dalam lingkarannya sehingga sulit diberantas.
Orangtua seharusnya sangat berperan menjaga setiap anggota keluarga untuk tidak terlibat dalam lingkup narkoba, karena sangat sulit lepas bila sudah masuk ke dalamnya. Hubungan harmonis antara suami, istri dan anak sebagai salah satu kunci menutup rapat masuknya narkoba ke lingkungan keluarga.

Namun apapun alasannya, tindakan biadab pembunuhan dan kekerasan terhadap anak tidak boleh terjadi dan harus dihentikan. Aparat penegak hukum harus berani menghukum pelaku dengan seberat-beratnya agar menjadi efek jera bagi masyarakat lainnya.
Pemerintah dan semua pihak harus ikut berperan mencari solusi permasalahan. Bukan sekadar pelaku dihukum mati, misalnya. Tetapi menjadikan pembelajaran agar tindakan keji, apalagi terhadap anak seperti ini jangan terulang kembali. (***)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments