Jumat, 19 Jul 2019

Harga Tiket Pesawat yang Lebih Terjangkau

admin Rabu, 15 Mei 2019 10:13 WIB
Sudah beberapa kali janji penurunan harga tiket pesawat dilontarkan ke publik. Sebab konsumen sudah lama mengeluhkan mahalnya tiket pesawat. Bahkan sudah berdampak terhadap menurunnya pengunjung di beberapa objek wisata, termasuk di Sumatera Utara.

Beban konsumen bukan hanya tiket pesawat yang dinilai mahal. Barang bawaan penumpang pun kini sudah dikenakan biaya cukup tinggi. Memang belum semua maskapai menerapkannya, namun sudah terasa membebani.

Wajar warga mengeluh dan mendesak pemerintah melakukan intervensi.

Sebab berdasarkan pasal 127 ayat 2 Undang-Undang No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, disebutkan tarif batas atas (TBA) penumpang kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri ditetapkan Menteri Perhubungan. Tarif tiket pesawat itu ditentukan dengan memertimbangkan aspek perlindungan konsumen dan badan usaha penerbangan itu sendiri. Artinya jelas dan terang -benderang kewenangan pemerintah mengatur harga tiket pesawat.

Aspirasi itu direspons Kementerian Perhubungan dengan menurunkan TBA dengan kisaran 12 persen sampai 16 persen. Penurunan sebesar 12 persen akan diberlakukan pada rute-rute gemuk seperti rute di daerah Jawa. Sementara, penurunan lainnya dilakukan pada rute-rute seperti penerbangan ke Jayapura.

Lalu apakah kebijakan kali ini akan efektif menurunkan harga tiket pesawat? Belum tentu, sebab masih ada perlawanan. Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional Indonesia atau INACA menyatakan sangat keberatan dengan kebijakan menurunkan TBA.

INACA menilai penurunan TBA untuk rute penerbangan domestik kelas ekonomi tersebut akan berdampak bagi kinerja keuangan maskapai. Terlebih, saat ini kondisi sebagian besar keuangan maskapai nasional belum bisa dibilang bagus. Apalagi jika kurs rupiah kembali melemah, nantinya akan berdampak terhadap harga avtur yang semakin tinggi.

YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) malah khawatir penurunan TBA ini bakal direspons negatif. Mereka bisa nenutup atau mengurangi frekuensi rute penerbangan yang tidak dianggap menguntungkan. Jika hal ini terjadi, akses masyarakat terhadap layanan penerbangan seperti di Indonesia Timur atau remote area bisa terdampak.

Pemerintah diharapkan mengantisipasi kemungkinan penolakan akan kebijakan baru ini. Maskapai sebaiknya diajak duduk bersama dan membahas kelayakan harga tiket yang ideal, secara khusus untuk segmen menengah ke bawah. Konsumen tentu tidak mau maskapai karena dipaksa menjadi setengah hati melayani, bahkan mengorbankan aspek keselamatan.

Diharapkan ada "win-win solution" (solusi yang menguntungkan bagi semua pihak), baik konsumen, maupun maskapai. Harus diakui, tidak semua rute menguntungkan, namun harus dipertahankan demi kelancaran pelayanan publik. Tentu kita berharap, pada mudik Lebaran ini, warga sudah kembali menikmati tiket pesawat yang lebih terjangkau.(**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments