Senin, 20 Mei 2019

Gejolak CPO Pengaruhi Ekonomi Sumut

admin Selasa, 07 Mei 2019 14:15 WIB
Sumatera Utara (Sumut) memiliki lahan kelapa sawit yang sangat luas. Tak heran, dinamika di hulu hingga ke hilir komoditi ini pasti berdampak ke perekonomian lokal. Trend belakangan ini, harga tandan buah segar (TBS) terus menurun, akibat harga CPO (crude palm oil) di pasar internasional kurang menggembirakan.

Data BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan pada kuartal I/2019, ternyata pertumbuhan ekonomi Sumatra Utara masih stagnan bila dibandingkan dengan kuartal IV/2018 yakni di 5,3 persen. Penyebabnya adalah harga CPO yang terus turun.

Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara sebesar 5,3 persen, ternyata sebanyak 1,49 persen berasal dari sektor pertanian yang berkontribusi paling besar. Jika harga CPO membaik, maka dipastikan pertumbuhan ekonomi Sumut bakal terdongkrak. Meski pada periode kali ini bisa melampaui pertumbuhan ekonomi secara nasional yakni sebesar 5,07 persen.

Beberapa bulan terakhir, harga TBS terus turun, umumnya hanya dijual pada level sekitar Rp 800 hingga Rp 1.100 per kilogram. Walau kualitas buah dominan dalam menentukan harga. Sungguh mengenaskan, sebab untuk biaya panen saja tidak mencukupi. Belum berbicara tentang pupuk dan perawatan.

Biaya panen sawit saat ini sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu per ton. Setiap per satu hektare kebun sawit, paling tidak dibutuhkan sekitar lima hingga sepuluh sak pupuk. Jika harga pupuk Rp 200 ribu per sak, maka biaya untuk itu sudah Rp 2 juta/hektare. Belum termasuk upah tenaga kerja apabila dikerjakan orang lain. Tak heran, ada yang menunda panen karena harga begitu rendah. Jika dibiarkan akan berdampak ke produktivitas sawit ke depan.

Penyebab anjloknya harga TBS memang sangat beragam. Belum pulihnya pasar internasional masih berpengaruh. Belum lagi dipicu perang dagang dan persaingan tak sehat sesama negara produsen, yang dimanfaatkan negara konsumen.

Harus diakui kampanye negatif terhadap industri sawit Indonesia masih gencar dan berdampak. Ini tak lepas dari kebiasaan buruk di masa lalu yang membuka lahan baru dengan membakar. Perkebunan dan industri mesti berwawasan lingkungan yang dibuktikan dengan sertifikat, supaya ada dasar menumbuhkan rasa percaya dunia internasional terhadap sawit Indonesia.

Pemerintah telah berupaya membuat terobosan dengan memperkuat hilirisasi CPO. Antara lain mendorong industri memproduksi turunan CPO. Pembuatan biofuel misalnya terus digenjot agar ada alternatif BBM (bahan bakar minyak).

Perkebunan besar dan perusahaan industri CPO mungkin masih bisa bertahan dengan kondisi ini. Sebab mereka memiliki modal besar. Bagaimana dengan petani? Sebaiknya ada skema menolong petani sawit. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments