Jumat, 10 Jul 2020

Fokus

Festival Danau Toba Tak Bermanfaat?

redaksi Minggu, 12 Januari 2020 10:37 WIB
Rakyat Sumut
Ilustrasi
Media massa dan media sosial ramai dengan pembahasan Festival Danau Toba (FDT). Berawal dari pernyataan pejabat Pemprov Sumut yang akan meniadakan acara tersebut pada tahun 2020. Alasan yang beredar agak simpang siur, namun pesannya sama, yakni tahun ini tak ada.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumut dalam keterangannya ke pers menyebutkan FDT 2019 gagal mendatangkan wisatawan lokal dan asing. Pasalnya, waktu penyelenggaraan tidak tepat, karena dilakukan di bulan Desember. Menurut mereka, waktu yang tepat adalah saat libur sekolah di bulan Juni.

Persiapan enam bulan dianggap Disbudpar tidak memadai untuk membuat FDT sukses. Itu sebabnya untuk tahun ini ditiadakan, dan akan diselenggarakan kembali pada 2021. Hal itu agar lebih matang direncanakan dan dipersiapkan, sebab waktunya lebih panjang.
Informasi berikutnya dari pejabat Pemprov Sumut lebih menohok. Disebutkan FDT kurang bermanfaat, dan akan diganti dengan konsep acara baru. Pertandingan Triathlon antara lain, disodorkan sebagai alternatif pengganti FDT.

Keputusan meniadakan FDT ini sontak menjadi polemik. Ada banyak dari kawasan Danau Toba protes, sebab argumen yang disampaikan dinilai masih belum menjawab substansi persoalan yang ada. Jika minimnya wisatawan lokal dan asing menjadi dasarnya, maka harus digali dan dijelaskan penyebabnya.

FDT sudah lama menjadi even akbar di Danau Toba. Namanya dulu terkenal dengan Pesta Danau Toba (PDT), dan pernah berubah menjadi Pesta Rakyat Danau Toba (PRDT). Beberapa dekade lalu, selalu ramai pengunjung lokal dan asing, sebab acaranya menarik dan waktunya tepat.

Mari evaluasi penyelenggaraan FDT sekarang! Waktunya sering ditetapkan mendadak, panitia dibentuk tergesa-gesa dan persiapan tak matang. Benar, Danau Toba selalu ramai saat libur, namun jika jadwal FDT berubah-ubah setiap tahun, maka wisatawan tetap akan minim. Sebab turis biasanya membuat perencanaan libur secara tahunan.

Itu sebabnya FDT harus menjadi agenda tetap dan jadwalnya tidak ditetapkan secara mendadak. Jadi orang tahu setiap tahunnya pada bulan tertentu ada even besar di Danau Toba. Kemudian konten acara harus lebih kreatif dan inovatif agar menarik bagi wisatawan asing dan lokal.

Terlalu prematur memvonis FDT kurang bermanfaat. Daripada saling mencari kambing hitam, mari belajar dari kesalahan. Pariwisata harus dikerjakan secara integratif dari hulu ke hilir, dan tidak hanya parsial. Tak bisa ditunda lagi, semua pemangku kepentingan harus duduk bersama dan mulai membangun secara bersama-sama pariwisata Danau Toba. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments