Rabu, 23 Okt 2019

Etika Para Politisi Bangsa

admin Kamis, 03 Oktober 2019 13:30 WIB
Sikap para politisi saat pelantikan anggota DPR RI menjadi perbincangan hanya karena salam menyalam dan buang wajah. Harusnya mereka sadar sebagai wakil rakyat, perilakunya disorot banyak mata. Apalagi di era digital sekarang, ada jejak yang sulit dihapus, sebab sekali terekam dan disebar, ratusan juta orang bisa mengaksesnya.

Sopan santun merupakan budaya luhur bangsa. Indonesia dengan bangga menyebut nenek moyang dikenal dengan keramahan dan kesantunannya. Hal itu diwariskan ke keturunannya dan masih menjadi diakui sebagai nilai kolektif.

Kita memahami panggung politik tidak seperti yang tampil di permukaan. Pertarungan kepentingan sangat keras dan kadang begitu brutal. Tak ada yang tetap menjadi teman, melainkan kepentingan yang abadi. Artinya, kawan sekarang belum tentu sama di masa depan.

Saat ini semua partai politik sesuai tujuannya dibentuk, sedang berupaya tarik menarik merebut kue kekuasaan. Meski katanya Indonesia menganut sistem presidensial, ternyata Presiden bukanlah segalanya. Partai-partai tetap berperan penting, sebab pemerintahan memerlukan stabilitas.

Untuk menjamin stabilitas, pemerintah harus memiliki pendukung mayoritas di parlemen. Paling tidak mayoritas sederhana, yakni 50 persen plus satu yang harus aman. Di sinilah peluang partai merapat ke pemerintah.

Ternyata menjadi partai koalisi pendukung tak menjamin keinginan akan tercapai. Sebab pertarungan selanjutnya adalah siapa mendapat apa dan berapa. Semua merasa berjasa dan layak mendapat lebih posisi di pemerintahan.

Memang belum tentu sikap yang ditunjukkan politisi di pelantikan anggota DPR RI merupakan akibat perebutan posisi menteri.
Mereka sendiri yang tahu apa sebenarnya yang terjadi. Tetapi sudah sepatutnya mereka memiliki etika di hadapan seluruh rakyat Indonesia.

Apa sulit untuk tetap santun dengan menyebar keramahan dan kebaikan ke semua orang, meski mungkin itu adalah kompetitor atau bahkan "musuh". Jika tak ingin menyalami orang, perlakukan sama dan cukup mengumbar keramahan dengan tersenyum. Maka tidak akan ada intepretasi yang aneh-aneh di publik.

Kita berharap semua anak bangsa termasuk politisi, sebaiknya menjaga kesantunan di depan publik. Berikanlah contoh yang baik bagi generasi muda. Mereka akan menilai siapa sebenarnya pemimpin yang memiliki etika yang baik.(**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments