Jumat, 21 Feb 2020

Etika Berkoalisi

Selasa, 29 April 2014 16:02 WIB
Secara prosedural semua Parpol harus membangun koalisi untuk bisa mengajukan Capres  sesuai UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pilpres. Sampai saat ini KPU pusat belum menentukan secara sah jumlah suara Parpol, tetapi berdasarkan hitungan cepat sudah ada gambaran  tak ada Capres yang bisa dimajukan oleh satu parpol. Akhir akhir  ini publik, kampus, media, LSM, bahkan mulai dari warung kopi sampai meja eksekutif sibuk membahas koalisi yang akan dibangun  Parpol menghadapi Pilpres 9 Juli 2014. Apa sebenarnya tujuan, maksud, dan hakikat koalisi Parpol sehingga dalam berkoalisi perlu dikedepankan etika politik yang memberikan pendidikan dan nilai politik kepada rakyat?

Tujuan akhir dari koalisi adalah merebut kekuasaan sehingga bisa jadi pemenang. Lantas, setelah pemenang apa yang harus dilakukan? Program pembangunan dan visi membangun Indonesia dalah garis besarnya atau topik sentral yang harus dilakukan   semua Parpol. Untuk itu etika berkoalisi saatnya dikedepankan dengan tujuan  kekuasaan yang sedang dikejar bukan hanya untuk"nafsu berkuasa" semata.  

Sampai saat ini belum ada keputusan  parpol siapa berkoalisi dengan siapa. Semua masih terus melakukan komunikasi intens dan penjajakan. Di kalangan Parpol Islam sendiri untuk membangun koalisi atas dasar kesamaan ideologi masih belum  terjadi. Koalisi Parpol Islam dengan sebutan poros tengah jilid II masih sulit terjadi. PPP, PKS, sepertinya jalan sendiri untuk menentukan koalisinya.

Trend selama ini dalam bentuk pendikotomian Parpol dengan dua arus, Parpol Islam dan Parpol nasionalis tidak akan efektif lagi. Istilah Parpol Islam dan Parpol nasionalis sudah saatnya ditinggalkan. Harapan masyarakat hanya satu, siapa pun yang jadi presiden harus mampu membawa perubahan pemerintahan yang lebih baik dari sebelumnya.

Saat ini Capres sudah makin menguat. Joko Widodo (Jokwi), Aburizal Bakrie (ARB), dan Prabowo  sudah terus digadang-gadang akan maju jadi Capres. Siapa yang akan mengusung  mereka terus jadi bahan diskusi. Lobi sesama elit politik terus intens. Saat semua elit politik  melakukan dialog, harapan masyarakat adalah Capres yang dimajukan oleh Parpol merupakan Capres yang berkualitas, berintegritas, dan punya program konkrit dan bukan hanya retorika membawa Indonesia di tengah percaturan global saat ini.

Dalam Pilpres rakyat merupakan penentu dan Parpol hanya mengajukan calonnya  harus disadari oleh semua pimpinan Parpol. Mendengar suara rakyat sangatlah penting sebagai masukan utama. Saatnya Parpol melibatkan masyarakat dalam membangun koalisi. Pada akhirnya Capres yang akan bertarung pemenangnya bukan ditentukan oleh elit politik, tetapi rakyat dari semua lapisan.

Alangkah elegannya jika dalam berkoalisi kesamaan ideologi untuk membangun negara dan menyejahterakan masyarakat menjadi  hal yang melandasi "nafas koalisi". Parpol lebih bagus lagi jika berkoalisi dengan rakyat dengan mencari masukan dari rakyat sehingga legitimasi koalisi akan kuat. Etika koalisi adalah kesamaan ideologi dan pandangan untuk membangun Indonesia berdasarkan UUD 1945 dan Ideologi Pancasila. (#)

T#gs
Berita Terkait
    Komentar
    Komentar
    Silakan Login untuk memberikan komentar.
    FB Comments