Rabu, 18 Sep 2019

Era Kendaraan Listrik

admin Senin, 02 September 2019 10:20 WIB
Dulu Indonesia merupakan penghasil minyak bumi dan berperan penting dalam OPEC (organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi). Seiring perjalanan waktu, sesuai sifat energi tidak terbarukan, negeri ini beralih dari eksportir menjadi importir. Tak sedikit uang negara yang dihabiskan untuk membeli minyak bumi dari luar negeri.

Ketergantungan terhadap minyak bumi makin berkurang dengan adanya temuan baru. Indonesia yang kaya dengan perkebunan kelapa sawit ternyata menjadi solusi. Turunan CPO bisa diolah menjadi biodiesel (solar).

Dalam waktu dekat akan diterapkan kebijakan mandatori biodiesel 30 persen (B30). Artinya, dari solar yang beredar, sebanyak tiga puluh persen di antaranya merupakan hasil pencampuran dengan CPO. Kebijakan itu diperkirakan bisa menghemat impor solar hingga 3 juta kiloliter (KL) per tahun.

Lima tahun mendatang disiapkan B100, seratus persen CPO. Bukan hanya solar saja yang dihasilkan, bahkan juga avtur yang merupakan bahan bakar pesawat. Indonesia pada akhirnya bisa lepas dari ketergantungan impor minyak.

Penggunaan BBM hasil minyak bumi dan CPO memiliki dampak lingkungan yang tak jauh berbeda. Kendaraan yang menggunakannya pasti menghasilkan zat polutan. Udara pasti tercemar, yang mengganggu lingkungan.

Inovasi manusia terus berkembang dengan penggunaan listrik pada kendaraan sehingga tak lagi menggunakan BBM. Temuan ini bukanlah hal baru, secara ide sudah lama ada, tetapi masih terlalu mahal untuk digunakan secara massal. Ada keniscayaan, ke depan akan semakin murah.

Indonesia sebagai bagian dari negara modern, tak boleh ketinggalan. Kemarin, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN 2021 akan diarahkan untuk pengembangan kendaraan listrik. Diharapkan industri dalam negeri mengembangkan buatan sendiri.

Saat ini biaya produksi kendaraan listrik dinilai masih terlalu mahal. Hal itu menyebabkan harga jual tak terjangkau warga biasa. Pemerintah harus berani memberi subsidi atau membelinya sebagai teladan bagi rakyatnya, serta sekaligus agar produsennya berkembang.

Perguruan tinggi diminta lebih serius mengembangkan kendaraan listrik melalui penelitian dan inovasi. Mahalnya biaya produksi pasti ada jalan keluar. Selamat datang di era kendaraan listrik. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments