Sabtu, 26 Sep 2020

Dunia Mulai Menutup Pintu

Sabtu, 12 September 2020 09:42 WIB
Internet

Ilustrasi

Upaya pemerintah untuk menangani Covid-19 dan pemulihan ekonomi belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sehingga Presiden Jokowi mengingatkan kembali masyarakat agar mewaspadai klaster baru di kantor, keluarga dan Pilkada. Peringatan ini akibat semakin banyaknya penderita di kantor-kantor pemerintah dan swasta. Sebagai gambaran, di Sumut beberapa pengadilan dan kantor pemerintahan lainnya terpaksa lockdown karena hakim dan sejumlah pegawai positif Covid. Hal ini terjadi di PN Medan, PN Lubukpakam dan sejumlah kantor-kantor pemerintah lainnya. Demikian halnya keluarga-keluarga juga banyak diberitakan positif Covid.

Klaster baru yang juga perlu diwaspadai adalah Pilkada serentak di seluruh Indonesia, di antaranya di 23 kabupaten/kota di Sumut.

Indikasi klaster baru Corona sudah mulai terasa saat pendaftaran bakal pasangan calon (bapaslon) kepala daerah di KPU. Meskipun sudah dianjurkan agar tidak melakukan arak-arakan massa dalam jumlah banyak, tetapi arahan itu diabaikan. Terlihat ratusan bahkan ribuan massa mengantar bapaslon jagoannya mendaftar ke KPU seperti yang terjadi di Samosir dan daerah lainnya. Tampak mereka mengabaikan anjuran itu dan mengabaikan protokol kesehatan. Bawaslu mencatat ada 243 pelanggaran protokol kesehatan saat proses pendaftaran itu di seluruh Indonesia.

Tidak hanya massa yang dikhawatirkan tertular, tetapi juga para calon. Karena sesuai temuan KPU saat pendaftaran bapaslon Pilkada 4-6 September 2020 lalu, ada 59 bakal calon positif Covid-19 di 21 provinsi. Bahkan ada bakal calon yang meninggal dunia akibat Covid menjelang pendaftaran. Semuanya itu tanpa disadari berpotensi meningkatkan penularan bagi masyarakat.

Pemerintah memang sudah berupaya mengendalikan Covid melalui kebijakan dan tindakan nyata di lapangan serta imbauan agar mematuhi protokol kesehatan. Imbauan itu tidak hanya dilakukan pemerintah, tetapi juga pimpinan-pimpinan agama, ulama, pendeta, influencer, tokoh-tokoh ormas, tenaga pendidikan, dan kesehatan. Namun tingkat kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan sangat rendah, sehingga jumlah korban pun terus meningkat. Bahkan para dokter dan para medis pun banyak meninggal dunia karena Covid.

Kondisi ini berakibat buruk kepada masyarakat dan pemerintah Indonesia. Dunia meragukan kemampuan Indonesia mengatasi wabah. Akibatnya 59 negara di dunia menutup pintu bagi WNI ke negara mereka sampai waktu yang belum ditentukan karena ditakutkan bisa menularkan Covid.

Salah satu di antaranya adalah Malaysia yang telah melarang WNI berkunjung ke negaranya sejak 7 September 2020 lalu.
Pelarangan itu tentu saja akan berdampak luas bagi Indonesia, terutama bagi para pebisnis. Meskipun baru 59 negara mengisolir WNI, tetapi bisa mempengaruhi negara lainnya yang selama ini berhubungan baik dengan Indonesia. Sebaliknya warga mereka juga akan waspada berkunjung ke Indonesia. Padahal kunjungan bisnis dan wisatawan asing sangat kita harapkan ke depan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang sudah di ambang resesi ini.

Untuk mengantisipasi isolasi WNI ini, selain mempercepat ketersediaan vaksin Covid-19, pemerintah diminta lebih tegas melakukan pengawasan dan penindakan terhadap warga yang mengabaikan protokol kesehatan. Tidak cukup lagi hanya pendekatan humanis, tetapi juga tindakan tegas tapi terukur seperti mengurung mereka yang bandel dan tidak patuh pada peringatan.

Masyarakat juga diharapkan menjaga dan mengendalikan diri serta menyadari pentingnya protokol kesehatan. Hindari dulu tempat-tempat keramaian, pesta-pesta dan kumpul-kumpul dengan massa yang banyak. Kalaupun terpaksa, tetaplah menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Tanpa kesadaran dan kerjasama dengan pemerintah, maka akan sulit mengendalikan virus ini.

Jangan harus "dipukul" dan tertular dulu baru sadar dan disiplin. Saling menjaga dan mengingatkan, sehingga sebelum vaksin tersedia kita tetap sehat dan terhindar dari virus berbahaya ini. (*)

T#gs DuniaMenutupMulaiPintu
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments