Rabu, 23 Okt 2019

Dukungan Bagi Penderita Gangguan Jiwa

admin Kamis, 10 Oktober 2019 11:59 WIB
Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan lebih dari satu miliar orang di dunia mengalami gangguan kesehatan jiwa. Indonesia mencatat orang yang mengalami masalah kejiwaan jumlahnya mencapai 27,3 juta orang. Berarti, satu dari sepuluh orang di negara ini mengidap gangguan kesehatan jiwa.

Indonesia merupakan juara pengidap gangguan jiwa di Asia Tenggara. Tanpa intervensi dini, masalah kejiwaan yang dialami makin berat bahkan berujung pada bunuh diri. WHO juga menyebut setiap 40 detik terjadi kasus bunuh diri akibat depresi berat.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, persoalan kejiwaan ini dibagi dua. Pertama, ODMK (orang dengan masalah kejiwaan) dan kedua, ODGJ (orang dengan gangguan kejiwaan). OMDK merupakan orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa. ODGJ adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang termanifestasi dalam bentuk sekumpulan yang dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi sebagai manusia.

Setiap tahunnya, 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Dunia atau World Mental Health Day. Peringatan ini digagas Badan Kesehatan Dunia, World Health Organization. Melalui peringatan ini, masyarakat diajak untuk kembali menyadari sebuah persoalan di masyarakat yang belum banyak mendapatkan perhatian, yaitu kesehatan jiwa.

Tahun ini, WHO mengajak untuk turut berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental atau kesehatan jiwa melalui tantangan bertajuk "40 Second of Action". Setiap orang bisa berperan dan berkontribusi mencegah terjadinya kasus bunuh diri yang berdasarkan data terjadi setiap 40 detik sekali di seluruh dunia. Seseorang bisa mengakhiri hidup dengan cara pintas, tanpa mengenal latar belakang sosial maupun kelompok usia.

Aksi nyata Melalui Gerakan "40 Seconds of Action", bisa dilakukan dengan mengajak berbicara teman yang menderita gangguan mental. Bisa juga dilakukan secara publik, misalnya melalui sebuah iklan layanan kesehatan mental di media. Bentuk aksi yang lain juga bisa dilakukan sesuai dengan profesi masing-masing.

Alokasikan 40 detik waktu untuk berbicara dan bercerita kepada orang yang dipercaya. Semua orang memiliki kesempatan dan kemampuan untuk mencegah dan mengurangi angka bunuh diri dengan cara masing-masing. Hanya jangan mengekspos identitas dan foto yang bersangkutan di media sosial.

Kemenkes menargetkan untuk mengurangi jumlah ODGJ yang ditelantarkan. Pengurangan ODGJ dapat dilakukan melalui Dinas Kesehatan tiap daerah dengan menggerakkan tim dari Puskesmas dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa. Setiap pemerintah daerah diminta menyiapkan pelayanan ODGJ dan memberikan pelayanan sesuai standar.

Kesadaran masyarakat Indonesia terhadap masalah gangguan jiwa perlu ditingkatkan. Depresi jangan lagi dilihat sebagai aib, tetapi merupakan penyakit karena berkenaan dengan kesehatan mental, yang masih bisa disembuhkan. Ayo berikan dukungan bagi penderitanya agar tetap berharap masih bisa sembuh. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments