Kamis, 19 Sep 2019

Digitalisasi Layanan Publik di Danau Toba

admin Senin, 03 Juni 2019 10:00 WIB
Lebaran masih beberapa hari lagi, namun Danau Toba sudah mulai ramai pengunjung. Akhir pekan lalu, antrean panjang kendaraan sudah terlihat di Pelabuhan Ajibata untuk menyeberang naik feri ke Samosir. Masa tunggu dari dua jam hingga tiga jam baru bisa masuk feri, hingga membuat antrean panjang.

Pemerintah sebenarnya sudah menambah kapal feri ke Samosir, misal dengan adanya KMP Ihan Batak. Di hari biasa, arus kendaraan ke Samosir sudah sangat lancar, bahkan trayek penyeberangan dikurangi. Namun, saat akhir pekan dan hari libur masih terjadi antrean panjang.

Lamanya antrean feri antara lain karena penjualan tiket masih manual. Hal ini sangat ironis saat era digitalisasi telah merambah ke semua sektor kehidupan. Seandainya penjualan tiket sudah dilakukan daring (online), antrean panjang tidak akan terjadi.

Antrean akan menimbulkan masalah sosial baru. Sebab membuka peluang adanya pungutan liar berdalih parkir dan nomor antrean. Belum lagi warga yang kecewa karena terlalu lama menunggu.

Jika sudah digitalisasi, mobil yang antre hanya sudah pasti sudah memiliki tempat di feri. Orang bisa mengatur waktunya sesuai tiket yang dibelinya secara daring. Jadi, mereka bisa melakukan aktivitas lain, seperti menikmati wahana wisata yang ada di Danau Toba.

Secara tidak langsung akan menambah waktu bagi pengunjung menikmati Danau Toba. Efeknya pasti dirasakan pebisnis wisata. Sebab bisa saja wisatawan akan memanfaatkannya dengan makan minum di cafe.

Untuk mengimplementasikan penjualan tiket daring ini sebenarnya tidak sulit. PT Pelni saja sudah mengadopsinya, dengan tetap menyediakan tiket secara manual. Bila perlu bisa menggandeng pihak ketiga, tinggal menyeleksi penawaran siapa yang terbaik.

Sudah saatnya digitalisasi diterapkan di Danau Toba. Banyak orang sudah malas bertransaksi secara manual. Beberapa hotel sebenarnya sudah melakukannya, dengan melibatkan pihak ketiga. Kenapa pemerintah daerah berkolaborasi mewujudkannya.

Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) sebaiknya proaktif mewujudkannya. Digitalisasi telah menjadi kebutuhan banyak orang. Baik tidaknya layanan, juga diukur dari kemudahan akses secara daring.

Kita berharap layanan mudik Lebaran tahun ini berjalan dengan baik. Setiap kekurangan dan kelebihan harus menjadi evaluasi demi perbaikan pelayanan publik ke depan. Digitalisasi tak bisa ditunda lagi agar pariwisata Danau Toba makin jaya.(**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments