Rabu, 23 Jan 2019

Debat dan Rekam Jejak Capres

admin Selasa, 08 Januari 2019 11:11 WIB
Debat calon presiden sebenarnya masih lama, sesuai jadwal dimulai 17 Januari 2019 mendatang. Namun sejak akhir tahun lalu hingga sekarang sudah menjadi pembahasan. Betapa tidak, acara debat seperti ujian di hadapan seluruh rakyat Indonesia.

Pernak-pernik debat menjadi sorotan dan polemik. Penetapan panelis misalnya menjadi hangat, sebab ada nama-nama yang dicoret dengan alasan independensi. Belum lagi dengan disodorkannya daftar pertanyaan ke kandidat, beberapa hari sebelum debat.

Banyak pihak menilainya akan mengurangi daya tarik debat. Sebab sudah ada bocoran dan tentu ada waktu banyak mempersiapkan jawaban. Bisa jadi yang menjawab bukanlah kandidat yang bersangkutan, malah orang lain, meski itu timnya.

Padahal yang ditunggu saat debat adalah bagaimana kandidat saat dalam tekanan. Apakah akan gugup, emosional, atau tetap tenang dan bisa menjelaskan dengan baik. Spontanitas menunjukkan kemampuan sebenarnya dari seorang kandidat.

Idealnya forum debat ini adalah ajang mencari kelebihan kandidat, bukan kelemahan mereka. Rakyat diharapkan bisa menilai kandidat mana yang memiliki banyak kelebihan. Sebab, kalau kelemahan yang diincar, pasti bisa ditemukan, sebab tak ada di antara mereka yang sempurna.

Debat merupakan sarana penggalian pandangan, yang di dalamnya terkait unsur intelektual, penguasaan masalah yang relevan, manajemen serta kepemimpinan. Calon-calon pemimpin tertinggi eksekutif itu harus benar-benar tergali visi, misi dan strategi mereka. Sebab dari situlah publik bisa mengetahui apakah para calon itu adalah figur yang punya konsep dan rencana, atau hanya orang-orang yang tak tahu harus berbuat apa ketika menjabat.

Biarlah rakyat yang menilai mana yang pantas. Tak perlu khawatir sebab mereka sudah terbiasa dengan debat kepala daerah. Itu sebabnya capres dan cawapres harus memersiapkan diri dengan baik. Jangan sampai kualitasnya lebih rendah dari debat sekelas kepala daerah.

Meski begitu, debat hanyalah salah satu ikhtiar merebut hati rakyat. Sebab ada cara-cara lain, yang sah menurut UU, melalui kampanye. Harus diakui, pengaruh debat tidak terlalu signifikan memengaruhi pemilih. Walau demikian, harus tetap dilakukan secara maksimal, karena jutaan mata akan menyaksikan.

Diharapkan pemilih lebih cerdas dalam memilih kandidat. Rekam jejak seharusnya menjadi panduan. Jika hanya pintar bersilat lidah, masa depan bangsa ini dipertaruhkan hingga lima tahun mendatang. (**)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments