Minggu, 20 Okt 2019

Buzzer Ikut Bertanggung Jawab

admin Rabu, 09 Oktober 2019 11:30 WIB
Istilah buzzer belakangan kini makin populer dalam percakapan publik. Beberapa pihak mendesak polisi mengambil tindakan. Apalagi ada dugaan, mereka memeroleh bayaran besar untuk menggiring pembentukan opini tertentu sesuai keinginan pemesan.

Facebook sendiri sudah melakukan bersih-bersih sejumlah akun bermasalah. Sebagian akun itu diduga adalah bot atau sistem komputer yang diprogram untuk bekerja secara otomatis di media sosial. Sisanya dikendalikan buzzer, baik bekerja perorangan, maupun terorganisir.

Dari arti katanya, buzzer merupakan pendengung atau menyuarakan kembali. Konten dibuat orang lain dan buzzer hanya "memantulkan" kembali ke pihak lain di media sosial. Seberapa besar dampaknya, tentu bisa diukur secara digital, dari jumlah pengikut, dan yang membagikan ulang.

Konten yang ada ada dua jenis, yakni informasi yang benar dan bohong. Buzzer lebih dekat dengan sosok influencer (pemberi pengaruh), yakni di era media sosial, bisa menjadi ajang penghasilan. Produsen atau seseorang bisa meminta bantuan buzzer mempromosikan produk atau figurnya untuk kepentingan tertentu.

Lalu siapa pembuat konten baik benar maupun bohong di media sosial untuk didengungkan buzzer? Sudah lama dikenal istilah spin doctor, yakni seseorang yang bekerja menghasilkan karya atas nama orang lain. Kini karya tersebut tak lagi terbatas tulisan, sudah beragam, termasuk produk digital.

Spin doctor bisa membangun citra positif dan negatif seseorang, tergantung order yang diterima. Kabarnya di Indonesia, ada profesi semacam ini, meski transaksinya diam-diam. Dulu pernah ada akun di twitter, yang sekarang tak pernah lagi muncul, yang spesialisasinya membongkar aib orang lain.

Memang spin doctor memaksimalkan kerjanya dengan memanfaatkan buzzer. Lalu apakah buzzer bersalah atas konten yang disebarnya? Ada yang berpendapat, buzzer tak berdosa, dan spin doctor yang harus bertanggung jawab.

Jika mengacu ke UU ITE, pihak yang menyebarkan ikut bertanggung jawab atas kontennya. Seorang buzzer sebaiknya memilah konten yang hendak dibagikan. Kecerdasan dan kehati-hatian diperlukan, sehingga tidak ikut terseret dosa spin doctor.

Kita mendukung adanya patroli siber di media sosial dan internet. Bukan bermaksud membelengu kebebasan netizen, melainkan mendorong adanya tanggung jawab. Verifikasi dulu konten yang dibagi, sebab buzzer bisa terseret masalah hukum apabila ternyata informasi itu bohong, atau bahkan provokatif. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments