Senin, 21 Okt 2019

Bijak Memilih Tempat Kuliah

admin Rabu, 10 Juli 2019 11:01 WIB
Kemarin sore, sejak pukul 15.00, resmi diumumkan para calon mahasiswa yang lolos Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019. Pengumuman dirilis secara daring (online), yang bisa diakses dari mana saja, dengan memasukkan nomor pendaftaran dan tanggal lahir. Ada yang bersukacita karena lolos di kampus pilihannya, dan ada yang bersedih karena belum berhasil.

Sebelumnya, sudah ada penerimaan melalui jalur undangan, yang disebut dengan SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Prestasi di sekolah berdasarkan rapor yang menjadi pertimbangan. Tambahannya, ada tidaknya portofolio, yakni prestasi di dalam dan luar sekolah.

Sebenarnya, pemerintah sudah menyediakan beberapa jalur untuk menerima mahasiswa baru perguruan tinggi negeri (PTN). Terserah bagi calon mahasiswa untuk memilih, sesuai bakat dan kemampuan. Bahkan sudah ada jalur mandiri, yang biayanya jauh lebih mahal, karena sifatnya nonsubsidi.

Jalur mandiri ini sering disebut swastanya PTN. Meski ada ujian masuk, tetap saja yang lulus harus membayar biaya kuliah dalam jumlah besar. Terus terang jalur ini membuat persaingan swasta makin ketat dalam mencari mahasiswa baru.

Memang, tak terbantahkan, calon mahasiswa di Indonesia masih memfavoritkan PTN. Bagi mereka, gengsi lebih tinggi jika kuliah di kampus negeri. Walau sebenarnya, banyak perguruan tinggi swasta (PTS) yang memiliki kualitas yang sama, bahkan lebih.

Pemerintah sebenarnya telah membuat peringkat, baik PTN, maupun PTS. Pelaksananya adalah Badan Akreditasi Perguruan Tinggi (BAN-PT). Kampus digolongkan menjadi tiga golongan, yakni A, B dan C. Harusnya ini yang menjadi acuan bagi calon mahasiswa dalam menjatuhkan pilihan.

Dari PTN, ada yang tingkat akreditasinya masih C. Sementara yang PTS pun, banyak yang berhasil mendapat akreditasi A. Jadi tak jaminan, PTN itu bagus, dan PTS itu tak baik. Calon mahasiswa mesti mendapat informasi yang memadai tentang hal ini.

Proses akreditasi berlangsung secara ketat oleh BAN-PT dengan menerjunkan asesor ke lapangan. Mereka menilai dari berbagai aspek. Antara lain, rasio kecukupan dosen, tingkat pendidikan dosen, ada tidaknya guru besar, fasilitas yang tersedia, dan lain-lain.

Itu sebabnya, tak lulus SBMPTN bukanlah kiamat. Masih ada pilihan lain, yang juga baik. Tak masuk PTN, maka PTS masih ada. Hanya, bijaklah dalam memilih. Gunakan berbagai informasi dari berbagai sumber. Antara lain, bagaimana akreditasinya, yang bisa diakses di website BAN-PT.(**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments