Selasa, 11 Agu 2020

Berani Menghadapi Resesi

Kamis, 23 Juli 2020 12:26 WIB
fin.co.id

Ilustrasi risesi ekonomi

Resesi ekonomi menghantui dunia. Pandemi Covid-19 benar-benar memporakporandakan ekonomi global termasuk Indonesia. Banyak negara sudah mengalami kejatuhan menuju resesi akibat pandemi ini, seperti Singapura. Karena dua triwulan berturut-turut mengalami kontraksi alias pertumbuhan produk domestik bruro (PDB) negatif.

Bagaimana dengan Indonesia?
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, perekonomian Indonesia sudah menunjukkan pelemahan.
Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 sebesar 2,97 persen, melambat dari periode sama di tahun lalu yang tercatat 5,05 persen.

Penurunan aktivitas ekonomi nasional berdampak langsung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh sebagian besar sektor usaha. Termasuk pada sektor ekonomi non-formal akibat kebijakan PSBB di berbagai daerah di Indonesia.

PHK di sektor formal yang dilakukan perusahaan, bersamaan dengan pekerja non-formal yang menurun tajam produktivitasnya, pada akhirnya mendorong penurunan pendapatan masyarakat yang kemudian berdampak pada penurunan pengeluaran konsumsi rumah tangga.

Sebagian besar pekerja non-formal juga terdampak dengan penurunan pengeluaran konsumsi, dan bahkan turun kelas dari sebelumnya masyarakat berpenghasilan menengah menjadi penduduk rentan miskin. Bahkan turun kelas menjadi masyarakat prasejahtera.

Sebab itu, perlambatan ekonomi domestik yang cukup signifikan, membuat Indonesia berpotensi mengalami resesi. Yakni ketika pertumbuhan ekonomi selama dua kuartal berturut-turut negatif.

Pemerintah sendiri memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 akan kontraksi di kisaran minus 3,5 persen hingga minus 5,1 persen, dengan titik tengah di minus 4,3 persen.

Lantas bagaimana dengan pendapat ekonom senior Faisal Basri? Ia memprediksi, Indonesia insyaallah tidak akan masuk ke jurang resesi ekonomi.

Menurut dia, Indonesia beruntung karena peranan ekspor barang dan jasa relatif rendah dan jauh lebih rendah dari Singapura, hanya 18,4 persen. Sementara itu, peranan impor hampir sama dengan peranan ekspor, yaitu 18,9 persen. Kebetulan juga impor merosot lebih dalam dari impor.

"Jadi kemerosotan perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) justru positif buat pertumbuhan ekonomi sehingga memberikan sumbangsih dalam meredam kemerosotan pertumbuhan," papar Faisal.

Adanya prediksi berbeda dari para ekonom ini, paling tidak membuat kita tidak putus asa dan terus bersemangat berupaya agar tidak masuk ke jurang resesi. Ini seperti sebuah peringatan agar kita tidak hanya pasrah dan lengah.

Melemahnya sektor manufaktur harus diimbangi dengan menguatkan sektor industri pertanian dan peternakan. Sebagai negara agraris dan memiliki lahan yang sangat luas, seharusnya kita tidak terlalu khawatir dengan resesi dunia akibat pandemi ini. Apalagi ekspor-impor kita tidak setinggi negara lain.

Apalagi saat ini kita sudah mulai menerapkan adaptasi kebiasaan baru (AKB). Sehingga pergerakan orang dengan melaksanakan protokol kesehatan, tidak terlalu dibatasi. Mulailah dengan giat berusaha memanfaatkan setiap jengkal tanah yang ada. Setiap keluarga harus bisa memenuhi beberapa kebutuhan sendiri dengan memanfaatkan SDM dan SDA. Sementara pemerintah harus mendorong secara terus menerus dan fokus terhadap pertanian, perkebunan dan perikanan dengan skala besar.

Momen pandemi sekaligus ancaman resesi ekonomi, sekali lagi, harus jadi pembelajaran buat bangsa untuk bangkit. Bahkan bukan sekadar selamat, tetapi mampu menjadi bangsa yang kuat ekonominya di masa depan. Semuanya sudah kita miliki, hanya keinginan yang belum terpatri. (***)

T#gs BeraniMenghadapi ResesiPHKpandemi Covid-19pandemi Covid 19
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments