Senin, 16 Des 2019

Tajuk

Berani Berkompetisi dan Hasilkan Produk Kreatif

redaksi Kamis, 21 November 2019 11:43 WIB
tipspengembangandiri.com
Ilustrasi

Sekarang memang eranya kreativitas. Presiden Jokowi sudah mengantisipasinya, dengan mendorong bangkitnya ekonomi kreatif, yang memang merupakan keniscayaan pada era milenial ini. Ada badan khusus yang menanganinya dibentuk. Tak heran, Jokowi tak gamang ketika menjadikan dirinya sendiri bagian dari kreativitas tersebut.


Industri kreatif merupakan sektor strategis dalam pembangunan Indonesia ke depan. Sebab ternyata telah mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Indonesia memiliki potensi kekayaan yang sangat besar baik sumberdaya alam, keragaman budaya, maupun sumberdaya manusia.


Kreativitas dan inovasi sangat diperlukan dalam pembangunan nasional untuk mengoptimalkan berbagai potensi kekayaan tersebut. Hal itu akan memberi nilai tambah sehingga memiliki produk dalam negeri berdaya saing tinggi di pasar lokal dan internasional. Perlu digarisbawahi ekonomi kreatif berbasis kepada modal kreativitas sumberdaya manusia.


Indonesia memiliki sumberdaya manusia yang jumlahnya sangat besar. Perlu dorongan, edukasi dan pelatihan agar mereka memiliki kemampuan untuk berkreasi untuk menciptakan inovasi dan nilai tambah. Apalagi kreativitas merupakan sumberdaya terbarukan yang tidak ada habisnya sepanjang masa.


Kreativitas akan mendorong dihasilkannya produk-produk manufaktur dan jasa yang inovatif dan bernilai tambah tinggi. Kelak negeri ini tidak akan lagi bergantung pada ekspor bahan mentah, tetapi produk yang bernilai tambah tinggi. Kekayaan alam suatu saat akan habis, terutama yang tidak bisa diperbaharui.


Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) yang mengemban tugas tersebut mengungkapkan strategi akan terus dilakukan guna mendukung pertumbuhan industri kreatif. Hal itu termasuk startup atau perusahaan rintisan. Ada tiga fokus, yakni sumber daya manusia (SDM) yang unggul, akses modal dan industri kreatif substitusi impor.


Memang untuk bisa bersaing dan menciptakan produk unggul, pertama-tama diperlukan SDM yang unggul terlebih dahulu. Untuk menciptakan SDM yang unggul, maka diperlukan manajemen, mentoring dan pelatihan serta dukungan ekosistem yang teruji. Ada wadah bagi para wirausahawan atau entrepreneur untuk berkonsultasi langsung dengan para mentor terkait dunia usaha, termasuk persoalan teknis yang sering dihadapi.


Kedua, adalah pemberian akses pemodalan yang sesuai dengan karakter industri. Pemerintah sedang mewacanakan penggunaan aset kekayaan intelektual sebagai salah satu kolateral dalam penilaian pemberian kredit bagi perbankan. Langkah ini diharapkan mempermudah akses modal bagi industri kreatif termasuk perusahaan rintisan atau start up yang tengah tumbuh.


Koleteral merupakan salah satu dari 5 indikator yang dinilai oleh perbankan sebelum mereka memberikan kredit bagi sebuah usaha.
Ketiga, mendorong adanya produk dari industri ekonomi kreatif yang mampu menjadi produk bagian dari substitusi impor. Industri kreatif dan ekonomi digital diharapkan bisa menjadi ujung tombak pemasaran produk domestik, khususnya mengenai ekonomi kreatif. Itu sebabnya para pegiat ekonomi kreatif harus didorong berani berkompetisi dan menghasilkan produk brilian. (**)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments