Minggu, 05 Apr 2020

Belajar Dari Tragedi MAS

Selasa, 11 Maret 2014 16:52 WIB
Hilangnya pesawat Boeing 777-200 milik maskapai penerbangan Malaysia Airlines (MAS) di sekitar perairan Laut China Selatan patut jadi pembelajaran bagi semua negara. Prinsip keselamatan penerbangan harus lebih diutamakan daripada aspek bisnis semata. Untuk itu pengecekan segala peralatan sebelum terbang dan analisa situasi terkini, termasuk cuaca buruk, sampai perangkat keras pesawat harus jadi skala prioritas bagi perusahaan penerbangan.

Jujur saja hanya maskapai penerbangan yang tahu bagaimana kondisi pesawat, kondisi cuaca, sampai masalah teknis tetek bengek lainnya. Semua itu perlu dilakukan pengecekan ulang demi keselamatan. Selama ini sudah banyak pesawat mengalami kehilangan kontak karena berbagai permasalahan teknis semata, khususnya cuaca buruk. Semua itu memang diluar kehendak kita dan tidak kita inginkan. Hanya saja, kita hanya bisa belajar dari berbagai pengalaman masa lalu.

Mengingat banyaknya pesawat yang jatuh karena masalah teknis sudah seharusnya ini jadi bahan evaluasi bagi semua perusahaan maskapai atau pabrik pembuatan pesawat. Segenap kemampuan teknologi yang dimiliki harus mampu menjamin keselamatan sebagai prioritas utama. Masalah bisnis perlu dinomorduakan karena nyawa tidak akan bisa dibeli dengan uang. Manajemen penerbangan dengan mengutamakan keselamatan adalah harga yang tidak bisa lagi ditawar-tawar. Promosi jor-joran tanpa keselamatan penumpang harusnya ditinggalkan karena penerbangan dengan pesawat bukan seperti naik bus darat yang mungkin tingkat bahaya lebih rendah dari naik pesawat udara.

Dalam pesawat MAS tersebut ada warga negara RI dan  4 di antaranya asal Sumatera Utara. Sampai hari ini belum ada kabar mengenai keberadaan  para penumpang pesawat Boeing 777-200 tersebut.

Ke depannya, baik negara, perusahaan penerbangan, pabrik pesawat dan segenap komponen pendukung lainnya harus memikirkan upaya apa yang bisa dilakukan semaksimal mungkin melakukan analisa penerbangan secara cermat dengan tingkat keselamatan tingkat tinggi, sehingga pesawat hilang kontak, dan masalah teknis lainnya bisa teratasi dengan baik.

Perlu rumusan baru dalam dunia internasional agar masalah keselamatan penerbangan diutamakan dengan tingkat keselamatan super tinggi. Dengan demikian siapa saja yang melakukan penerbangan terhindar dari masalah gangguan penerbangan. Kita tahu persis bahwa tingkat bahaya dalam pesawat udara sangatlah tinggi. Profesionalisme tingkat tinggi sangat dibutuhkan. Tanpa profesionalisme dari semua pihak maka sangat rentan mengakibatkan kecelakaan yang berakibat sangat fatal.

Untuk itu, etika bisnis dalam dunia penerbangan harus mengarah pada keselamatan setiap penumpang. Tanggung jawab keselamatan penumpang sangat tergantung kepada maskapai penerbangan karena mereka yang tahu betul secara teknis. Kita berharap semoga tragedi MAS ini jadi pembelajaran berharga bagi semua negara agar lebih berhati-hati dan merevitalisasi keselamatan penerbangan dan membuat penumpang selamat dan aman di tujuan. Mari mengkampanyekan keselamatan di atas segalanya, termasuk keselamatan dalam penerbangan yang merupakan hak bagi semua penumpang.


Simak juga berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 11 Maret 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments