Senin, 20 Mei 2019

Awas Rabies Bisa Merenggut Nyawa

admin Kamis, 09 Mei 2019 15:00 WIB
Masih banyak warga abai dengan potensi terkena rabies dari hewan peliharaannya. Padahal penyakit ini sangat berbahaya dan jika terlambat dideteksi akan mengakibatkan kematian. Itu yang dialami seorang warga Kota Siantar, yang meninggal dunia setelah dirawat kurang lebih sebulan.

Padahal berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebanyak 30 sampai 60 persen orang yang terinfeksi rabies berusia di bawah 15 tahun. Di dunia, ada 70 ribu kasus rabies per tahun. Di Indonesia, menurut data Kementerian Kesehatan, selama 2017-2018 kasus rabies terjadi di Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan 922), Sulawesi Utara (15), Sumatera Utara (11), dan Nusa Tenggara Timur (10).

Daerah seperti Riau, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Papua dan Papua Barat sudah bebas rabies. Di Indonesia penularan rabies 98 persen melalui anjing dan dua persen melalui kucing dan kera. Sebab mayoritas peliharaan di rumah warga adalah Indonesia.

Penyakit rabies menyerang susunan syaraf dan otak secara cepat. Tingkat kematian akibat penyakit yang disebabkan oleh lyssavirus ini bisa sampai 100 persen. Penularan bisa juga terjadi hanya lewat air liur yang mengenai bagian tubuh yang terbuka seperti mata, bibir, hidung, atau pada bagian tubuh dengan luka terbuka.

Periode inkubasi rabies umumnya dua sampai tiga bulan, namun bisa bervariasi dari satu pekan sampai satu tahun tergantung faktor-faktor seperti lokasi virus dan banyaknya virus. Gejala pertama penyakit ini meliputi demam, tidak nafsu makan, lemah, insomnia dan sakit kepala hebat. Gejala-gejala itu diikuti dengan kegelisahan, takut air, takut angin dan takut suara.

Untuk menghindari penularan rabies, sangat penting merawat dan memvaksinasi hewan peliharaan secara teratur. Anjing yang dibiarkan berkeliaran begitu saja tanpa perawatan dan vaksinasi sangat berisiko menjadi penular rabies. Meski ada biaya vaksin, masih terjangkau jika dilakukan di pusat layanan kesehatan hewan milik pemerintah.

Warga perlu diedukasi tentang bahaya rabies serta bagaimana cara menghindarinya. Sebaiknya orang yang habis digigit anjing segera melapor atau memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Semakin dini ditangani, makan semakin besar kemungkinan bisa diselamatkan.

Pemerintah daerah diharapkan melakukan sosialisasi secara intensif terhadap warga. Bila perlu "jemput bola" dengan menggelar vaksinasi gratis terhadap hewan peliharaan. Dengan demikian warga terdorong memvaksin anjing peliharaannya.

Mengingat bahayanya, rabies tak bisa dianggap sepele. Daripada menyesal setelah jatuh korban, warga secara proaktif harus membawa hewan peliharaannya untuk vaksin. Kejadian di Siantar menjadi pelajaran berharga betapa bahaya ada di sekitar kita, yang kapan saja bisa mengincar nyawa. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments