Rabu, 26 Jun 2019

Audit Daya Tahan Bangunan

admin Rabu, 10 April 2019 11:42 WIB
Bangunan yang sedang tahap renovasi runtuh hingga rata dengan tanah di Jalan Gagak Hitam, Ringroad Kota Medan, Senin malam. Satu warga dilaporkan mengalami luka-luka dan harus menjalani perawatan. Diduga konstruksinya tersebut bermasalah sehingga ambruk saat ada penambahan bangunan, dari dua lantai sebelumnya.

Sebenarnya kecelakaan konstruksi sudah sering terjadi akibat kelalaian manusia. Hanya sorotan biasanya tertuju untuk kasus-kasus yang besar saja atau karena terkait perusahaan terkenal dan pemerintah. Sebut saja pemasangan PCI girder, con menjadi perhatian. Kecelakaan terjadi di area kerja proyek LRT Velodrom, Kelapa Gading akibat jatuhnya box girder beberapa waktu lalu.

Data Kemen PUPR proporsi kecelakaan kerja di Indonesia sektor konstruksi menjadi penyumbang terbesar bersama dengan industri manufaktur sebesar 32 persen. Berbeda dengan sektor transportasi (9 persen), kehutanan (4 persen) dan pertambangan (2 persen). BPJS mencatat konstruksi merupakan sektor industri penyumbang terbesar dalam hal angka kecelakaan kerja di Indonesia.

Dari kasus runtuhnya bangunan di Ringroad, muncul dugaan proses konstruksinya ada yang bermasalah. Memang terlalu dini menilai tanpa adanya audit secara komprehensif. Itu sebabnya kasus ini tak boleh diabaikan dan diselesaikan di bawah tangan. Sebaiknya Pemko Medan sebagai penerbit IMB harus melakukan investigasi tentang penyebab runtuhnya bangunan.

Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) sudah pernah mengingatkan agar perusahaan pelaksana proyek infrastruktur dan gedung-gedung melakukan audit daya tahan konstruksi yang komprehensif. Berdasarkan kajian asosiasinya, sebagian besar pelaksana proyek mengabaikan audit daya tahan konstruksi infrastruktur dan bangunan-bangunan besar. Sejauh ini audit yang dilakukan hanya berupa audit biaya dan benefit recovery.

Harusnya ada uji daya tahan, keamanan, keselamatan, serta respons intensitas bencana alam, termasuk gempa. Uji dan audit tingkat respons infrastruktur pada intensitas bencana alam sangat penting. Pasalnya, audit tersebut bertujuan menguji daya tahan konstruksi menghadapi ancaman bencana.

Bank Dunia dalam Laporan Evaluasi Infrastruktur Global 2017 sudah merekomendasikan agar setiap proyek infrastruktur diwajibkan melakukan audit konstruksi rutin atau reguler. Apalagi, infrastruktur pada negara-negara miskin dan berkembang di dunia ketiga yang dicirikan dengan minimnya teknologi dan pemahaman baik atas berbagai potensi bencana alam yang ada. Apalagi Indonesia berada di atas cincin api, yang sangat rentan terkena bencana, seperti gempa.

Senin malam tak ada gempa di Kota Medan. Lalu kenapa bangunan bisa runtuh? Apakah karena konstruksinya bermasalah atau menyalahi? Mungkin secara formal ada izin, apakah ada pengawasan dalam pelaksanaanya? Jangan sampai warga trauma naik ke bangunan bertingkat, hanya karena tak yakin kualitas dan kekuatannya.

Pemerintah mesti memastikan semua bangunan, terutama yang sifatnya terbuka untuk umum, memang aman dan kemungkinan runtuh akibat salah konstruksi. Pemberian IMB mesti dibarengi pengawasan dari instansi teknis. Apabila ada kesalahan konstruksi maka penanggung jawab bangunan harus diberi sanksi. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments