Senin, 13 Jul 2020

Apresiasi Kinerja Pers

Selasa, 23 Juni 2020 10:59 WIB
news.harianjogja.com

Ilustrasi Pers

Peranan pers dalam penyampaian informasi dan edukasi di tengah pandemi Covid-19 yang belum berujung ini mendapat apresiasi dari Partai Golkar yang disampaikan Ketua DPP Meutya Hafid saat Webinar (Web-seminar), Minggu kemarin. Meskipun situasi belum kondusif tetapi pekerja pers tanpa rasa takut tetap gigih terjun langsung, komit melakukan tugas dan fungsinya di tengah-tengah masyarakat.

Bahkan para pekerja pers sampai ada yang terindikasi positif Covid-19, namun tidak menyurutkan semangat awak media untuk melakukan tugasnya melaporkan kejadian sebenarnya di masyarakat. Demikian halnya perusahaan pers dimana awak media bergabung juga sangat merasakan dampak luar biasa dari Covid-19 ini. Namun tetap berupaya terus hadir melayani pembacanya, menyajikan mayoritas berita tentang Covid-19.

Selain itu media, khususnya media cetak dan digital juga sudah berupaya menangkal munculnya berita-berita hoax yang berseliweran di media sosial dan sangat meresahkan masyarakat. Bahkan berita-berita hoax tersebut sangat mengganggu program pemerintah.

Namun meskipun sudah bekerja keras tanpa perhatian pemerintah, tetapi kelihatannya Meutya Hafid yang juga Ketua Komisi I DPR RI itu masih merasa apa yang sudah dilakukan para awak media ini belum seperti yang diharapkan.

Dia berharap para jurnalis dari berbagai jenis media membuat lebih banyak pemberitaan positif terkait dengan penanganan Covid-19 di berbagai wilayah. Sepertinya Meutya yang juga mantan wartawan itu mengamati bahwa berita negatif masih mendominasi pemberitaan media dibanding berita positif terkait Covid-19.

Memang harus diakui bahwa sebagian media memang berupaya menyajikan dominan berita negatif untuk menarik minat pembacanya. Namun banyak juga media yang tetap mengedepankan berita positif yang akurat dengan mengikuti kaidah Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

Kita juga tidak terlalu menyalahkan media yang mengutamakan berita negatif asalkan merupakan fakta yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun pemberitaan negatif itu kurang diterima pemerintah karena dianggap kurang mendukung dalam penanganan Covid-19. Tetapi masyarakat dapat menerima pemberitaan itu karena dianggap menarik untuk diketahui.Tentu saja alasan mereka adalah agar medianya tetap bertahan dengan mengandalkan psikologis sebagian masyarakat di tengah gempuran Covid-19 ini.

Sementara perlakuan pemerintah bagi semua media sama saja, baik yang pemberitaannya positif maupun negatif. Akhirnya masyarakat lebih banyak mengkonsumsi pemberitaan negatif yang mengakibatkan timbulnya ketakutan dan kekhawatiran.

Sebagaimana kita ketahui, untuk menanggulangi dampak Covid-19 ini pemerintah sudah meluncurkan ratusan triliun rupiah stimulus untuk berbagai sektor, di antaranya sektor kesehatan, ekonomi dan bantuan sosial lainnya. Bahkan stimulus yang awalnya Rp500-an triliun itu terus bertambah sesuai dengan perkembangan mencegah jangan sampai terjadi resesi ekonomi.

Namun tak sedikit pun stimulus itu menyinggung perusahaan pers yang sangat terdampak Covid-19. Akibatnya perusahaan pers mengalami resesi dengan pengurangan jam kerja hingga pemutusan hubungan kerja. Bahkan beberapa perusahaan pers, kata Ketua PWI Atal S Depari sudah gulung tikar. Hal ini tentu saja sangat bertolak belakang dengan pernyataan dan harapan pemerintah dan masyarakat yang sangat membutuhkan pers.

Pemerintah dan masyarakat memang sangat mengapresiasi apa yang sudah dilakukan pers. Tetapi belum berbuat dan bergandengan tangan untuk mencegah pers berguguran akibat Covid-19 ini. Pers menghargai apresiasi itu, tetapi yang paling dibutuhkan pers saat ini untuk bisa bertahan tentu saja adalah stimulus dan perhatian pemerintah. (*)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments