Kamis, 21 Nov 2019

ASEAN Bukan Keranjang Sampah Global

redaksi Rabu, 06 November 2019 13:40 WIB
Sib/Doc
Ilustrasi

Ada tren baru di negara-negara maju, mereka membuang sampahnya ke luar negeri. ASEAN menjadi sasaran pengiriman termasuk Indonesia. Beberapa negara Asia Tenggara menerimanya, padahal dampaknya sangat berbahaya bagi lingkungan.


Kondisi ini menggelisahkan Indonesia. Sebab jika ada satu negara saja menerima, maka dampaknya bisa kena ke tetangga. Apalagi ada temuan, sampah tersebut sebagian dibuang ke laut, sehingga pencemaran bisa meluas ke negara lain.


Berdasarkan catatan bea cukai Indonesia, jumlah kontainer yang diterima di Indonesia hingga saat ini sebanyak 2.194 kontainer hingga Oktober 2019. Bea dan Cukai bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah melakukan pemeriksaan terhadap 882 kontainer. Hasilnya sebanyak 374 kontainer sudah dikembalikan ke negara asalnya.


Presiden Joko Widodo dalam pertemuan KTT ASEAN di Bangkok, secara tegas menyatakan Indonesia menolak menjadi tempat pembuangan sampah dari luar negeri. Kawasan Asia Tenggara telah menjadi tempat pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Perbuatan itu, menurutnya melanggar aturan internasional mengenai limbah plastik dan limbah beracun berbahaya.
Jokowi mengusulkan kerja sama penanganan limbah B3 dan sampah plastik. Sebab tak mungkin hanya satu dua negara yang "memeranginya". Harus ada sinergitas di antara sesama negara ASEAN agar efektif.


Indonesia sendiri telah mengambil langkah pemberitahuan melalui masing-masing Kedutaan Besar. Bahkan, telah melakukan pengiriman kembali kontainer-kontainer tersebut ke pelabuhan asal pengiriman. Pihak yang terlibat di dalam negeri telah dibawa ke ranah hukum.


Pencegahan pengiriman ilegal limbah B3 sesuai dengan kesepakatan internasional. Sebab untuk bisa menindak pengirimnya, perlu kerjasama negara asal. ASEAN harus menjadi pelopor sebab telah didesain menjadi "keranjang sampah" global.


Selain limbah B3, kawasan Asia Timur juga menghadapi tantangan sampah plastik laut. Jika tidak diatasi segera maka ekosistem laut di kawasan Indo-Pasifik akan rusak. Tahun lalu, ASEAN sebenarnya sudah sepakat menanggulangi sampah plastik laut termasuk mendorong negara Asia Timur untuk memiliki rencana aksi nasional memerangi sampah plastik laut.


Strategi nasional saja tak memadai untuk menangani sampah laut, dari hulu ke hilir. Negara ASEAN harus dapat mendorong gerakan global anti sampah plastik. Gerakan global ini melibatkan sektor swasta aktivis lingkungan, generasi pemuda dan milenial. Semakin banyak terlibat, semakin baik demi dunia yang bebas sampah B3. (**)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments