Sabtu, 11 Jul 2020

Utak Atik Kementrian

Senin, 22 September 2014 10:09 WIB
Beberapa hari terakhir ini kita menyaksikan berbagai ide yang disampaikan kepada presiden terpilih, Joko Widodo perihal kabinet yang akan dibentuknya beberapa minggu mendatang. Selain jumlah kementerian, publik juga mengkritisi mengenai upaya mereformasi kabinet yang ada selama ini.

Salah satu kementerian yang kini disorot adalah Kementerian Pendidikan Nasional. Menurut salah satu sumber di media, kementerian ini rencananya akan dibagi dua, yaitu Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ristek. Alasannya? Belum terlalu pasti. Tetapi yang kita tahu adalah supaya kementerian ini menjadi lebih fokus kepada upayanya masing-masing. Ide tersebut menyatakan bahwa program untuk membangun pendidikan akan menjadi lebih terarah karena bidang pekerjaan menjadi lebih jelas dan terarah.

Memang selama ini banyak masalah terjadi dalam pendidikan kita. Banyaknya guru yang belum mendapatkan sertifikat keahlian, masalah ruangan kelas yang rusak, termasuk masalah fasilitas pendidikan yang minim. Itu baru satu sisi. Itu bisa dilihat hasilnya dari survei PISA (Progamme for International Student Assesment) yangmenempatkan kemampuan siswa menengah Indonesia masih jauh di bawah rata-rata.

Di sisi lain, kualitas pendidikan tinggi kita mengalami masalah besar. Survey QS yang terbaru merilis bahwa level pendidikan di Indonesia sangat jauh. Universitas yang berada pada level 200-an, hanyalah Universitas Indonesia, UGM, ITB dan Unpad. Kampus universitas di Jawa memiliki posisi yang luar biasa, sementara kampus perguruan tinggi di luar Jawa amat jauh dari disebut bereputasi internasional.

Maka masuk akal jika kemudian dua kementerian tersebut direncanakan akan dipisah. Program yang lebih fokus dan terarah akan menjadikan pendidikan tinggi menjadi lebih mampu menghela berbagai produk riset untuk dimanfaatkan. Selama ini memang riset identik dengan perguruan tinggi.

Tetapi marilah kita tidak terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Ada baiknya kita kembali kepada catatan dalam UU Sisdiknas. Di dalamnya terungkap dengan jelas bahwa kita memiliki sebuah Sisdiknas berupa satu sistem pendidikan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam bangsa.

Dengan asumsi demikian maka jelaslah kepada kita bahwa sasaran tujuan Sisdiknas bukan hanya sasaran sampai dengan satuan pendidikan setara sekolah dasar dan menengah tetapi juga sampai pada pendidikan tinggi. Mantan Menteri Pendidikan di era 80-an Daoed Jusuf termasuk salah seorang yang mengkritik pemisahan ini. Ia menyatakan bahwa pemisahan pendidikan seolah menjadikan pendidikan tinggi tidak perlu peduli pada tujuan pendidikan di level dasar dan menengah. Sebaliknya, jika memisahkan dua kementerian ini, ada kesan pendidikan tinggi tidak perlu menekankan pada pembentukan akhlak mulia sebagaimana sudah diasah pada jenjang pendidikan sebelumnya.

Kita juga ingin mengingatkan bahwa tujuan pendidikan tinggi bukan hanya melulu riset. Menggabungkan keduanya malah bisa menjadikan riset sebagai primadona dan mengabaikan bahwa pendidikan tinggi juga belajar mengenai keilmuwan non-riset seperti humaniora dan sosial. Memaksakan riset ke dalam satu bidang dengan pendidikan tinggi membuat arah riset kita hanya bersifat hi-tech dan abai pada komprehensifnya ilmu yang kita butuhkan.

Berhati-hatilah mengutak-atik kementerian jika tidak perlu. Sekali mengubahnya, maka akan terdapat berbagai konsekuensi yang tidak sedikit. (***)

T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments