Jumat, 18 Okt 2019

Ungkap Motivasi dan Dalang MCA

Selasa, 06 Maret 2018 14:26 WIB
Isu SARA dan kebangkitan PKI sempat ramai dibagikan di media sosial (Medsos). Berbagai cerita dibangun, yang ujungnya selalu berupaya mendelegitimasi pemerintah sekarang. Mulai  isu penyerangan ulama, hingga penyelundupan sabu, dikaitkan dengan kinerja Presiden Jokowi. Tak bisa dipungkiri, sedikit banyaknya pasti berdampak, dan bahkan ada memercayainya sebagai kebenaran.

Jagad media sosial beberapa hari terakhir mendadak senyap dari serbuan hoaks. Bukan karena ada pertobatan massal, namun ada kaitannya dengan makin gencar dan tegasnya polisi memburu penyebar hoaks. Secara beruntun sejak penangkapan dan pengungkapan kelompok Saracen, banyak orang yang terjerat ujaran kebencian.

Terbaru,  polisi membongkar jaringan penyebar berita bohong dan ujaran kebencian yang menamakan diri Muslim Cyber Army (MCA). Polisi menangkap enam pelaku di sejumlah daerah, termasuk seorang perempuan yang berprofesi sebagai dosen salah satu universitas terkemuka di Yogyakarta. MCA memiliki sejumlah grup dengan fungsi yang beragam dalam menyebarkan konten berita bohong dan ujaran kebencian.

Setidaknya, ada empat grup yang berbeda yang menjadi alat MCA, yakni MCA United, Cyber Moeslim Defeat hoaks, Tim Sniper MCA dan The Family MCA. MCA United ini merupakan grup terbuka yang besar dan memiliki anggota mencapai ratusan ribu orang. Grup ini dikendalikan 20 pengendali (admin). Grup ini merupakan wadah untuk menampung unggahan dari anggota MCA yang berisi akun berita, video dan gambar yang akan disebarluaskan.

Tim Cyber Moeslim Defeat hoaks lebih tertutup dan anggotanya lebih sedikit, hanya sekitar 100 orang. Tugasnya menciptakan isu-isu tertentu kemudian menyebarkannya ke publik untuk memenangkan opini. Lalu, tim Sniper yang memiliki 177 anggota lebih tertutup lagi. Aksi mereka dilakukan secara rahasia untuk mengidentifikasi akun-akun yang dianggap musuh untuk kemudian diretas. Mereka menyebarkan virus kepada orang atau kelompok yang dianggap musuh agar tidak bisa mengoperasikan gawai mereka.

Kelompok terakhir adalah induk dari jaringan MCA, yakni The Family MCA. Kelompok inti ini berisi sembilan orang admin yang memiliki peran krusial dalam operasional MCA. Enam orang di antaranya telah ditangkap terkait aktivitas menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian. Untuk masuk ke grup inti ini tidak mudah. Mereka harus lulus dari sejumlah tahapan tes.

Ketua Setara Institute Hendardi menilai  kelompok MCA jauh lebih berbahaya dan terorganisir.  Melihat personel dan pola gerakannya, MCA ini berbeda dengan Saracen. MCA tampak lebih ideologis, memiliki kelompok dan sub ribuan di sebaran wilayah Indonesia. Itu sebabnya, daya rusak kelompok ini lebih besar dari Saracen.

Kita mengapresiasi aparat kepolisian yang bertindak tegas terhadap MCA, Saracen dan kelompok-kelompok sejenis. Sejumlah aturan perundang-undangan bisa menjerat mereka dengan hukuman yang berat, antara lain KUHP, UU 40/2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta UU 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Ancaman hukuman antara 5-6 tahun dan atau denda hingga miliaran rupiah.

Polri diharapkan mengungkap motivasi dan dalang dari keberadaan kelompok-kelompok ini. Sebab target mereka untuk merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Patroli siber harus dilanjutkan, dan segera menangkapi orang-orang yang menyebar hoaks dan ujaran kebencian di media sosial. Hal ini demi kondusifnya tahun politik menjelang Pemilu 2019.  Ungkap Motivasi dan Dalang MCA
T#gs
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments