Senin, 16 Des 2019

Staf Khusus Milenial Ala Jokowi

redaksi Jumat, 22 November 2019 12:49 WIB
merdeka.com
Para Staf Khusus Milenial Ala Jokowi
Kemarin Presiden Jokowi mengumumkan 12 orang yang menjadi staf khususnya. Tujuh di antaranya merupakan orang baru dan selebihnya mempertahankan yang sudah ada. Luar biasanya, mereka semua dari generasi milenial.

Jokowi bukan tanpa alasan menempatkan generasi milenial di jajaran staf khususnya. Dia memahami peran strategis milenial dalam berbagai gerak dinamika bangsa. Kebijakan pemerintah perlu disampaikan dalam "bahasa" mereka dan sebaliknya apa aspirasi milenial direspon dengan tepat.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), jumlah populasi penduduk kategori generasi milenial di Indonesia mencapai 90 juta orang. Jumlah itu lebih dari sepertiga jumlah penduduk negeri ini. Walau tak mayoritas, tetapi harus diperhitungkan dan tak bisa diabaikan begitu saja.

Milenial sangat erat kaitannya dengan internet. Segala aktivitas mereka selalu bersentuhan dengan internet dalam berbagai bentuk. Contoh dari kehidupan digital tersebut ialah mengirim pesan dengan cepat, penggunaan media sosial (medsos) dan berbelanja daring.

Di era digital ini, milenial menggunakan kreativitasnya membangun ekonomi. Kreasi mereka memberi differensiasi dan dipasarkan secara daring. Kontribusinya sangat besar dari tahun ke tahun. Nilai produk domestik bruto (PDB) di Indonesia meningkat karena adanya pengaruh dari ekonomi kreatif dalam pendapatan nasional.

Menurut data, PDB sektor ekonomi kreatif meningkat dari Rp 784 triliun pada tahun 2014 menjadi Rp 1,105 triliun pada tahun 2018. Angka ini akan terus meningkat ke depan. Sebab akses internet terus meluas dan bertambah, yang merupakan sarana bersemainya ekonomi kreatif serta merupakan kapling kaum milenial.

Tak mudah bagi milenial bekerja dalam birokrasi. Sebab mereka biasanya tak suka dikekang dan ingin bekerja dengan "merdeka". Tentukan saja targetnya, maka milenial akan mencapainya dengan "cara"-nya, sesuai batas waktu yang ditentukan. Metode milenial mungkin tak biasa, tetapi hasilnya jelas.

Itu sebabnya, sudah tepat kebijakan Presiden Jokowi untuk tidak memaksa staf milenialnya bekerja dalam birokrasi. Walau sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara, ada aturan yang tak boleh dilanggar. Milenial akan diajak memahami, sambil diberi ruang yang luas untuk berkreasi demi kemajuan bangsa.

Staf milenial mesti memahami tugasnya sama dengan menteri, yakni membantu presiden. Kebebasan berkreasi yang diberikan harus dipertanggungjawabkan dengan menghasilkan karya inovatif dan berdaya jual tinggi. Tetaplah "muda" dan jangan menjadi terkooptasi dengan kekuasaan. (**)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments