Sabtu, 19 Sep 2020

Tajuk Rencana

Pesan Kepada PDI-P

Sabtu, 20 September 2014 08:21 WIB
PDI - Perjuangan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IV di Marina Convention Center, Semarang, Jawa Tengah yang dibuka  Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Selain dihadiri  Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kall, ketua umum partai pengusung yakni Wiranto (Hanura), Sutiyoso (PKPI), Surya Paloh (NasDem) dan Ketua DPP PDIP Puan Maharani juga hadir. Uniknya, Plt Ketum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Emron Pangkapi dan Waketum Partai Amanat Nasional (PAN) Drajad Wibowo juga datang.

Dalam amanatnya, Megawati Soekarnoputri menyampaikan bahwa terpilihnya kader PDI-P Joko Widodo sebagai Presiden RI adalah sebuah amanah dan kepercayaan masyarakat kepada PDI-P.

Mantan presiden ini menyatakan bahwa metode blusukan yang dilakukan  Joko Widodo sepertinya  menghadirkan suasana baru bagi keseharian rakyat. Bahkan, dalam konsepsi ideologi, blusukan harus menjadi tradisi politik yang menghadirkan kekuasaan di tengah problem rakyat itu sendiri. Dengan cara itu, maka blusukan adalah cara untuk menghadirkan pemimpin dan mengorganisasikan rakyat.

Karena itu, menurut Megawati Soekarnoputri, PDI-P harus mengemban amanah itu dengan baik. Menurut Megawati, PDIP merasa, ketika suatu partai berada di dalam pemerintahan, itulah ujian sesungguhnya. Megawati Soekarnoputri juga berpesan agar mentalitas berpartai diubah, dari partai penyeimbang menjadi partai pemerintah.

Dua hal di atas patut dicermati seluruh kader PDI-P. Tantangan pertama untuk menjadi partai pemerintah adalah godaan kekuasaan. PDI-P pernah berkuasa beberapa tahun yang lalu. Dan uniknya, mereka kemudian tumbang dihantam partai baru kala itu, Partai Demokrat.

Banyak dugaan bahwa sewaktu berkuasa, ada perilaku berkuasa yang kemudian terlihat jelas: berlaku bak pemenang.

Banyak kader PDI-P yang malah tidak menjaga perilakunya. Kekuasaan dianggap sebagai alat untuk bisa melakukan apa saja.

 Dan itulah yang kemudian menjadi senjata makan tuan.  Megawati Soekarnoputri menyebutkan bahwa selama 10 tahun PDI-P berpuasa kekuasaan, merupakan masa bagi mereka untuk berefleksi mengenai bagaimana memaknai amanah rakyat kepada mereka.

Jika rakyat kecewa, maka akibatnya jelas. Pamor menurun dan kemudian tidak disukai oleh masyarakat. Itu pula yang terjadi pada partai penguasa, Partai Demokrat. Prahara demi prahara menimpa partai ini, khususnya kasus korupsi. Menurut salah seorang petinggi Partai Demokrat, hal ini karena selama berkuasa, mereka abai pada pembentukan karakter. Tepat seperti kata Megawati Soekarnoputri, tantangan sebenarnya bukan pada saat tidak bisa melakukan apa-apa, tetapi pada saat berkuasa. Karena itulah kita berharap kader-kader PDI-P tidak pongah, melainkan mengerjakan apa yang menjadi amanah rakyat. Jika perlu, PDI-P harus membangun ketegasan pada rule of conduct yang harus mereka bangun secara bersama-sama.

Kedua, sebagai partai pemerintah, mereka harus benar-benar menjadi partai yang berlaku dengan baik. Kepada rakyat harus bisa berkomunikasi.

Kepada rekan pendukung harus bisa menjalin komunikasi. Kepada parpol yang tidak sejalan, harus bisa merangkul.

Politik adalah seni dan karena itu harus mampu mendukung kebijakan pemerintah sampai pada level bawah.
Itulah pesan rakyat kepada PDI-P. Semoga pesan itu sampai dan menjadikan PDI-P menjadi partainya kaum marhaen (***)

T#gs PDIP
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments