Sabtu, 11 Jul 2020

Tajuk Rencana

Penyelundupan BBM

Rabu, 17 September 2014 10:18 WIB
Aksi-  komplotan mafia penyelundup BBM terungkap. Polisi menahan pengusaha, oknum PNS, oknum pegawai Pertamina dan oknum pegawai lepas dari TNI AL. Kelompok ini melakukan aksinya di kawasan Kepulauan Riau.

Komplotan ini melakukan penyulundupan dan penjualan BBM bersubsidi di tengah laut, bekerjasama dengan oknum di berbagai instansi di atas.

Pegawai Pertamina memberikan informasi mengenai kapal Pertamina, pegawai TNI AL memersiapkan back-up, dan oknum PNS menerima dana hasil kegiatan ilegal tersebut ke dalam rekeningnya. Total lebih dari Rp. 1 triliun transaksi masuk ke dalam rekening PNS tersebut.

Modus ini sebenarnya lagu lama. Sudah lama terdengar kepada kita bagaimana lihainya mafia ini beraksi. Istilah kerennya adalah "kencing" di laut.

 Itu menggambarkan aliran minyak subsidi yang dikeluarkan ke kapal lain di laut lepas, untuk kemudian dijual ke kapal lain yang bersedia membeli BBM dengan harga murah.

Pemerintah bisa saja berdalih bahwa pengiriman minyak kita berjalan lancar. Tetapi bukti adanya permainan orang dalam Pertamina juga bukan isapan jempol. Inilah yang lalai diberantas dari dalam. Bisa dibayangkan bagaimana lihainya mereka bekerja sampai informasi mengenai keberangkatan dan posisi jual beli bisa disampaikan dengan sangat baik oleh mereka.

Modus mengeruk minyak inilah yang salah satuya menjadikan Pertamina tidak pernah bisa maju-maju.

 Sampai dengan saat ini, Pertamina mengaku rugi sampai Rp. 6 triliun dari seluruh aktivitasnya. Menurut kita, kerugian ini merupakan akumulasi dari ketidakmampuan Pertamina mengurus manajemen dari dalam dirinya sendiri.

Sebagaimana kita ketahui Pertamina masih saja tidak mampu melakukan upaya eksplorasi minyak dengan alasan keterbatasan teknologi. Perlu dilakukan audit apakah pernyataan tersebut benar adanya.

Yang kita tahu adalah bukannya tidak mampu, tetapi menyerahkan identifikasi minyak kepada perusahaan asing, sering menjadi solusi cepat dan mudah dilakukan. Sama seperti impor bahan pangan, menurut banyak pihak merugikan, tetapi menurut "orang dalam" itu akan lebih menguntungkan karena akan menghasilkan rente kepada para penikmatnya.

Keburukan perilaku  oknum-oknum pegawai Pertamina inilah yang menyumbang kerugian negara. Mereka yang berkiprah di sektor migas seharusnya adalah sosok-sosok yang jujur dan mengabdikan diri untuk kepentingan bangsa. Bisnis sektor ini melimpah ruah.

Sayangnya mental pegawainya jika bobrok hasilnya adalah korupsi yang luar biasa.

 Maka tak heran jika kemudian dua petinggi bidang minyak, mantan Kepala SKK Migas dan mantan Menteri ESDM kini telah menjadi pesakitan di tangan KPK.

Bisnis minyak ini menggiurkan bukan hanya pegawai kelas bawah tetapi juga kelas pejabat. Sungguh memalukan menyaksikan hal tersebut.

Pemerintah memang perlu membenahi masalah ini. Mafia minyak yang terjadi  atas hanyalah puncak dari sengkarut yang terjadi di dalam mengelola Migas.

Padahal Migas seharusnya bisa memberikan kekayaan bagi negeri ini. Kita seharusnya bisa lebih sejahtera, bisa lebih makmur dan bisa lebih sehat jika kekayaan Migas menjadi primadona. Tetapi kini Migas kita hanya menjadi kenikmatan bagi segelintir pihak.

 Di saat yang sama, sebagian besar rakyat Indonesia kini menderita akibat kenaikan harga sektor Migas.

Tak bisa dipungkiri penyelundupan ini membongkar kenyataan betapa sesungguhnya ini adalah "permainan".

 Di depan mata kita, kekayaan negeri ini dipermainan untuk menjadi sumber kekayaan bagi beberapa pihak.

Sampai kapan ketidakadilan di negeri ini bisa diberantas? (***)

T#gs BBM
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments