Sabtu, 11 Jul 2020

Tajuk Rencana

Pangan Mandiri, Kapan?

Jumat, 05 September 2014 09:30 WIB
Kita-  selalu memertanyakan program kemandirian pangan yang selalu didengung-dengungkan pemerintah. Sayangnya, hal itu sepertinya selalu mustahil dipenuhi. Impor pangan selalu saja menjadi salah satu kebijakan yang dibangun  pemerintah dari dulu hingga kini. Pemerintah selalu mempunyai dalih ada kegagalan panen. Pemerintah juga ingin menyimpan stok terlebih di hari besar keagamaan.

Maka tidak heran jika masyarakat kemudian hampir-hampir tak lagi memiliki nilai tukar atas produk pertaniannya. Impor beras, jagung, kedelai, bahkan buah-buahan, telah mematikan usaha kecil dan menengah yang dibangun tanpa ada subsidi dari pemerintah.

Padahal tahun lalu,  Presiden SBY sendirilah yang menyampaikan Rencana Aksi Pangan Bukittinggi (RAPB) sebagai komitmennya untuk meningkatkan produktivitas pangan saat menghadiri puncak Hari Pangan Sedunia (HPS) di Sumatera Barat. Menurut rencana, produksi lima komoditas pangan strategis akan digenjot habis-habisan pada tahun 2014. Kelima produk pangan tersebut adalah padi, jagung, kedelai, gula dan daging sapi.

Target produksi ini merupakan upaya swasembada, bahkan diharapkan Indonesia bisa surplus seperti  di masa lalu, tetapi lagi-lagi kita seperti sudah terjebak ke dalam perilaku impor ini.

Memang, impor pangan ini sangat murah. Apalagi dengan adanya para importir yang memberikan berbagai fasilitas kepada para pejabat yang memiliki otoritas atas impor. Dalam kasus impor daging sapi dan sapi bakalan misalnya, kita menyaksikan bagaimana hal tersebut seperti lahan bancakan masing-masing pelaku usaha. Mereka tidak segan-segan menyuap para pejabat miliran rupiah demi meraup keuntungan yang tidak sedikit.

Impor mematikan petani dan peternak dalam negeri. Ketika mereka berusaha mati-matian, mereka tidak mendapatkan komitmen besar dari pemerintah.

Bukannya memberikan dukungan kepada usaha "lokal", pemerintah malah membiarkan para petani dan peternak mengalami kesulitan yang tidak sedikit.

Pemerintahlah yang tidak menumbuh-kembangkan kecintaan dalam memroduksi sendiri dan menggunakan produk pangan unggulan lokal secara sungguh-sungguh, tanpa bergantung pada pangan impor lagi. Paradigma di sektor pertanian belum untuk tujuan memandirikan pangan kita.

Sektor pertanian dianggap lebih banyak untuk memasok pangan demi stabilitas daripada memandirikan kondisi dalam negeri.

Fondasi ekonomi pertanian kita memang belum pada upaya mempertahankan produksi dan jika perlu meningkatkannya.

Sebagai negara agraris, Indonesia tidak berlebihan kita sebut telah gagal menjadi diri sendiri, karena lebih banyak bergantung pada pihak lain dan tidak mandiri. Padahal, potensi produktivitas lahan Indonesia yang sangat strategis sangat menguntungkan.

Sepanjang tahun lahan pertanian bisa berproduksi.

Bandingkan dengan negara maju yang hanya mendapatkan produksi lahan pertanian dalam beberapa bulan saja jika musim sesuai. Tetapi hasilnya malah berbanding terbalik. Kapasitas produksi kita hanya sepersepuluh dari jumlah produksi yang dihasilkan  negara maju.

Petani yang merupakan produsen pangan yang paling besar, setara dengan 70 persen penduduk Indonesia, justru sebagian besar berada pada posisi paling miskin. Mereka juga turut bergantung pada industri pangan yang sangat mengatur mekanisme pasar yang merugikan petani itu sendiri.

Karena itulah kita harapkan pemerintahan baru lebih perduli dan lebih sungguh-sungguh membangun kebanggaan dalam negeri.

Tanpa ada kebijakan dan perubahan paradigma, maka petani kita hanya bisa gigit jari terus menerus (***)

T#gs Pangan
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments