Senin, 09 Des 2019
  • Home
  • Sinar Wanita
  • Wanita Jepang Protes Gara-gara Larangan Pakai Kacamata di Kantor

Wanita Jepang Protes Gara-gara Larangan Pakai Kacamata di Kantor

redaksi Minggu, 17 November 2019 18:55 WIB
wolipop.detik.com
Ilustrasi Wanita pakai kacamata

Wanita Jepang memprotes sejumlah aturan kerja di perusahaan. Salah satu larangan perusahaan Jepang yang dianggap tak wajar adalah wanita tidak boleh menggunakan kacamata.


Di media sosial, wanita Jepang memprotes peraturan perusahaan tersebut setelah ada tayangan yang mengungkap regulasi tersebut di TV Nippon. Dengan hashtag #KuToo, wanita ramai-ramai meluapkan protesnya.


Seperti dikutip Bloomberg, sejumlah wanita Jepang mengungkapkan bahwa bos mereka memaksa karyawatinya menggunakan softlense bagi mata minus. Menurut salah satu karyawati, alasan dilarang menggunakan kacamata karena penampilan jadi kurang menarik.


"Penekanan pada penampilan sering terjadi pada wanita muda yang menginginkan mereka untuk terlihat feminin. Hal ini sungguh aneh karena pria dibolehkan menggunakan kacamata, sementara wanita tidak," ujar seorang wanita.
Pengguna Twitter pun menanggapi regulasi tersebut dengan lantang. Tak sedikit yang mengungkap bahwa aturan tersebut dianggap pembodohan.


"Aturan ini sungguh ketinggalan zaman," tulis salah satu netizen.
Aktor Jepang sekaligus orang yang mendukung gerakan #KuToo Yumi Ishikawa ikut menanggapi regulasi tersebut. "Jika memakai kacamata adalah sebuah masalah di kantor, seharusnya hal tersebut juga berlaku untuk semua orang pria dan wanita," ungkapnya.
Gerakan #KuToo pada awalnya memprotes standar kecantikan di tempat kerja. Pada Maret lalu, hashtag ini pun ramai karena paksaan karyawati wajib menggunakan makeup.


Tagar tersebut pada awalnya dibuat sebagai bentuk protes pada perusahaan yang mewajibkan menggunakan high heels tinggi. #KuToo adalah kombinasi dari kutsu yang dalam bahasa Jepang diartikan sepatu, dan kutsuu yang artinya menyakitkan. (Wolipop/f)

T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments