Selasa, 18 Jun 2019
  • Home
  • Sinar Wanita
  • Valentina br Siagian, Puteri dan Isteri Jenderal Penggiat Batik Motif Batak

Valentina br Siagian, Puteri dan Isteri Jenderal Penggiat Batik Motif Batak

admin Minggu, 05 Mei 2019 20:39 WIB
SIB/Dok
Valentina br Siagian dan suami Brigjen Pol (Purn) Drs Johny R Hutajulu mengenakan Batiktak setiap harinya.
Medan (SIB) -Siapa yang tidak tahu batik? Pakaian bermotif hasil karya Bangsa Indonesia turun menurun, yang sempat diklaim negara tetangga sebagai bagian dari kebudayaan mereka. Beruntung pasca batik dipatenkan pemerintah sebagai milik Indonesia, pesona batik semakin berkembang baik dari segi motif, bahan kain, corak warna, bahkan arti tersirat dalam motif batik tersebut.

Berangkat dari kecintaannya terhadap batik, Valentina br Siagian (55) warga Komp AKRI Jalan I No3, Ampera Raya, Jakarta Selatan, menuangkan unsur seni khas Batak pada pakaian batik. Hal itu dilakukannya dengan harapan budaya Batak dapat terus dilestarikan dan menjadi menarik bagi generasi muda, yang saat ini mengalami penurunan rasa cinta dengan kebudayaan kesukuannya akibat derasnya pengaruh budaya asing.

Puteri pasangan Marsekal Pertama L.E Siagian dan Bunga Enna Hutasuhut itu kemudian mulai gencar mempelajari seni gambar dan ukir khas Batak. Selama masa "hunting" itu, isteri Brigjen Pol (Purn) Drs Johny R Hutajulu itu, mendapati beragam keindahan seni ukir Batak yang sayangnya hanya dapat dilihat di kampung halaman saja.

"Banyak motif seni khas Batak yang tak kalah menarik dibanding milik suku lain. Selama mendampingi suami bertugas, Saya melihat tenunan khas dari sejumlah daerah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Sementara ulos Batak yang sangat indah itu sangat jauh tertinggal perkembangannya, karena telalu disakralkan dan hanya boleh dipakai/digunakan pada acara adat. Tak jarang ulos Batak yang bernilai seni tinggi itu hanya berakhir di lemari dan dimakan rayap," ujarnya kepada SIB melalui telepon seluler, Jumat (3/5).

Dikatakan ibu 3 anak dan nenek 1 cucu ini, ide membuat batik Batak itu muncul saat mengikuti suaminya menjalani dinas ke Bangka Belitung (Babel) sekira tahun 2006. Saat itu, pemerintah daerah setempat menetapkan agar Aparat Sipil Negara (ASN) dan pelajar mengenakan batik motif Bangka (Cual) pada hari tertentu. Selain termotivasi giatnya pengenalan batik di masing-masing daerah, Valentina juga termotivasi untuk mendorong kemajuan trend busana Batak yang tak dapat mengimbangi ketenarannya pada dunia tarik suara.

"Sangat disayangkan, indahnya ukiran di rumah adat batak hanya dapat dinikmati saat pulang ke kampung halaman. Saya merasa harus ada media yang dapat mempresentasikan keindahan seni ukir Batak itu. Karena Saya suka batik, dan saat itu batik dipatenkan sebagai milik Indonesia, maka saya putuskan untuk membuat batik Batak (Batiktak)," ujarnya.

Setelah memutuskan memulai produksi Batiktak mulai dari nol pada 2012, wanita kelahiran Makassar 24 Juli 1964 itu sempat beberapa kali mengganti pengrajin ukiran batik karena tak cocok dengan ide-idenya. Langkahnya semakin berat dan sempat berpikir untuk mundur, saat keluarganya tak satu pun berlatar belakang pengusaha mendukung dirinya melakoni usaha itu.

"Untungnya, sahabat Saya Panda, Lita dan Erlin yang lebih dulu berkecimpung di dunia mode selalu berbagi informasi serta memberi dukungan kepada Saya. Setelah beberapa kali diulangi, akhirnya Saya menemukan style batik Batak yang tepat. Karena ingin batik Batak digemari generasi muda. Saya beri sentunan modern pada motif dan warna. Selain tak hanya terpaku pada warna asli Batak yaitu merah, hitam dan putih, Batiktak lebih didominasi dengan motif pada ulos dan ukiran rumah adat Batak," jelasnya.

Usaha dan kerja keras yang dilakoninya sekarang sudah membuahkan hasil, ditandai dengan Galeri Batiktak di Toba Dream Jalan dr Saharjo, Jakarta Selatan. Selain sudah secara resmi memiliki sertifikat hak merek dari pemerintah, Batiktak miliknya sudah menjadi trend style baru di kalangan pejabat seperti Luhut Binsar Panjaitan, Djarot Saiful Hidayat dan isteri, Maruarar Sirarit, Kapolri Jenderal Pol HM Tito Karnavian, politisi Ruhut Sitompul, Erry Nuradi dan sejumlah tokoh lainnya.

Meski mengaku belum membuka diri untuk mengekspor hasil karyanya, tapi Valentina kerap mendapat pesanan Batiktak untuk dijadikan oleh-oleh dan dipakai di luar negeri. Kendala yang masih dihadapinya yaitu masih banyak orang yang menganggap suku Batak tidak punya budaya batik. Penilaian yang negatif itu kemudian berangsur hilang dan berubah menjadi pujian atas inovasi baru yang dilakukannya, karena Batiktak kini sudah menjadi salah satu pilihan batik.

"Presiden Jokowi sudah patenkan batik milik Indonesia, jadi punya semua suku dan seluruh daerah sudah punya batik. Jangan kita kalang kabut setelah budaya ini diakui negara lain, sementara selama ini tidak dilestarikan dan dikembangkan. Pemerintah sudah menetapkan pakaian batik dikenakan setiap hari Jumat, jadi batik Batak sekarang sudah menjadi salah satu pilihan. Yang jelas, saya senang karena Batiktak by Valentina Siagian diterima berbagai kalangan," paparnya.

Berdasarkan pengalamannya saat pesta pernikahan puterinya, Batiktak digunakan keluarga kedua pengantin saat prosesi pemberkatan di gereja dan resepsi pernikahan. Baginya, tidak tertutup kemungkinan batik Batak merambah ke model baju pengantin. Semua hal itu, sambungnya, merupakan penyemangat baginya untuk terus berinovasi dan mengembangkan budaya Batak. Hingga saat ini moto "Tiada Hari Tanpa Batiktak (THTB)" terus digeliatkannya, dengan mengenakan Batiktak setiap hari sebagai bukti kecintaannya terhadap Batak.

"Impian dan harapan Saya, suatu saat nanti Bapak Jokowi dan Ibu Iriana dapat mengenakan Batiktak," harapnya. (M15/c)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments