Jumat, 05 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Tato Gigi Bikin Senyum Jadi Seksi

Minggu, 01 Juni 2014 20:05 WIB
Washington DC (SIB)- Tato gigi mulai populer. Tak sekadar ikut mode tapi demi kesehatan dan—konon— senyum jadi lebih seksi. Meski tato gigi menjadi bagian dari kebudayaan di Jepang, di negara lain seperti Amerika Serikat, seni mempercantik gigi dengan menorehkan gambar, mulai disukai.

Dailymail, Senin, (26/5), melaporkan, tren tato gigi telah banyak dilakukan oleh wanita. Perempuan mengaku tergugah untuk mentato gigi karena warna yang dihasilkan sangat cantik dan membuat mereka tampil semakin percaya diri. Ragam-ragam rupa dipilih seperti inisial nama bahkan logo tim sepakbola kesayangan. Seni menghias tubuh ini jauh lebih murah ketimbang tato di kulit, harga yang dibandrol untuk tato gigi sekitar 75 dolar AS hingga 200 dolar AS (sekitar Rp 850.000 hingga Rp 2.300.000).

Bagi pemilik gigi sehat, seperti dilapor SCTV, tren ini belum bisa diaplikasikan, namun jika berniat memakai gigi palsu bertato, maka bisa dilakukan. Sebenarnya tren ini sudah ada sejak lama. Dua puluh tahun lalu, The Suburbia Dental Laboratory di Bloomfield menambah gambar pada gigi palsu sesuai permintaan pasien.

Apakah tato ini dapat luntur atau membahayakan gigi? Menurut data yang ada, tato gigi tidak akan merusak gigi dan dapat dibiarkan selama bertahun-tahun. Pemakainya juga tidak akan merasakan sakit seperti halnya jika membuat tato pada kulit.

Discovery News dan Tempo.Co, melaporkan tato gigi pun dapat mendeteksi kesehatan. Gigi emas maupun perak sudah lama dikenal manusia lebih dari satu abad. Gigi buatan dari logam itu sebagai pengganti gigi asli yang tak bisa terganti setelah mereka memiliki susunan gigi tetap. Sekarang, logam itu tak hanya digunakan sebagai pengganti gigi saja. Para ahli bisa menempatkan sensor emas pada sebuah gigi.

Ide menarik ini dirancang oleh nanoscientist Princeton, Michael McAlpine dan bioengineers Tufts, Fiorenzo Omenetto, David Kaplan and Hu Tao. Sensor ini terbuat dari emas, sutra dan grafit. Sensor tersebut dapat mengukur kadar bakteri dalam mulut. Nantinya cara ini akan membantu dokter gigi apakah mulut pengguna berpotensi terserang penyakit gusi bengkak atau tidak.

Banyak penyakit yang diindikasi dari tanda-tanda dalam air liur, seperti AIDS maupun tukak lambung. Dan alasan inilah mengapa dokter gigi selalu menanyakan kepada pasien memiliki riwayat penyakit apa saja sebelum si pasien meminta perawatan gigi.

Cara kerja sensor ini cukup sederhana. Lapisan emas yang berfungsi sebagai elektroda, lapisan graphene dan peptida yang berlekatan dengan graphene. Semuanya disatukan dengan lapisan sutra.

Mendeteksi bakteri tertentu juga membutuhkan peptida yang khusus pula. Beda bakteri, maka peptida yang mampu mendeteksinya juga berbeda.
Lapisan sutra yang dimaksud adalah bukan kain. Namun sebenarnya untai tunggal yang struktur proteinnya telah diubah. Setelah ditekan ke permukaan gigi, lapisan sutra ini akan larut sehingga sensor gigi akan terjebak di tempat itu. Semuanya didukung oleh jaringan nirkabel.

Perangkat ini memang belum diujikan pada manusia. Sampai saat ini hanya sapi saja karena binatang ini kecil kemungkinan mengeluh akan benda asing yang menempel di giginya. Berbeda dengan manusia yang justru lebih sensitif. Kulit apel yang tipis saja, mereka seringkali sudah sangat terganggu. Maka perangkat yang akan dicobakan tentu saja lebih tipis. (t/r9/d)
T#gs
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments