Sabtu, 06 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran
  • Home
  • Sinar Wanita
  • Potret 6 Wanita yang Dobrak Stereotip, Kapten Bola Hingga Direktur Konstruksi

Potret 6 Wanita yang Dobrak Stereotip, Kapten Bola Hingga Direktur Konstruksi

redaksi Minggu, 15 Desember 2019 21:01 WIB
SIB/Dok
Yanti, Kapten Girls Football NTT.
Wanita masih dihadapkan dengan berbagai stereotip yang kadang menghalangi mereka untuk berkembang. Tapi tentu tak semua wanita terjebak dengan stereotip masyarakat dan berhasil membuktikan bahwa mereka bisa melebihi ekspektasi.

Dalam acara Summit On Girls yang diselenggarakan Yayasan Plan Indonesia, enam wanita berbagi bagaimana mereka mendobrak stereotip dan sukses menjadi kapten bola hingga direktur konstruksi. Simak profil singkat mereka.

1. Yanti, Kapten Girls Football NTT
Bermain bola bukan aktivitas yang disukai banyak anak perempuan. Namun Yanti punya ketertarikan bahkan bercita-cita membela negara dengan menjadi pemain profesional. Remaja 15 tahun ini awalnya sempat ditantang oleh ibu bahkan guru dan diledek teman-temannya. Namun Yanti kini membuktikan bahwa ia memang jago bahkan menjadi kapten bola.

"Guru-guru mengejek saya katanya nanti kulit saya jadi hitam. Mama juga melarang. Teman-teman laki-laki mengejek katanya nggak pantas dan skill saya tidak sama dengan mereka," ungkap Yanti dalam acara yang diadakan di Balai Kartini beberapa waktu lalu.

"Tapi saya dapat manfaat dari bola bukan hanya tentang teknik tapi belajar (menghindari) perilaku-perilaku berisiko pada remaja seperti merokok, narkoba, bullying. Saya juga dapat teman dan fans," tambahnya.

2. Laksmi Prasvita, Pendaki Perempuan
Selain main bola, naik gunung juga kurang populer di kalangan wanita. Banyak wanita yang takut dengan aktivitas tersebut karena dianggap bisa membuat kulit hitam dan timbul bercak-bercak hingga masalah ketahanan fisik. Namun wanita 50 tahun ini mematahkan stereotip tersebut. Ia sendiri sudah naik 50 gunung dan berencana untuk menaklukan tiga gunung lain.

"Orangtua melarang karena berisiko. Teman-teman juga bilang 'nanti jadi hitam, lari bikin kaki jadi besar dan varises, kulit ada freckle, buang air bagaimana, tidak mandi dua minggu'. Tapi itu justru jadi stereotip dan challenge yang ingin saya taklukan sehingga saya bisa jadi versi terbaik dari diri saya," katanya.

"Saya dapat support dari komunitas pendaki yang kebanyakan laki-laki. Akhirnya saya nggak melihat gender lagi. Saya jadi ikut ritme latihan mereka yang artinya saya bisa berlatih beyond my gender," tutur Laksmi.

3. Vivin Sungkono, Anggota Komite Eksekutif PSSI
Vivin Sungkono adalah satu-satunya wanita yang menjadi anggota komite eksekutif di PSSI sekarang. Menurutnya memang tak mudah untuk menembus dan menjadi setara ketika memasuki dunia laki-laki. Namun Vivin mengaku pada akhirnya ketika sudah berhasil masuk, orang tak akan lagi menilai bahwa kita adalah wanita tapi lebih kepada kemampuan. Vivin pun menceritakan salah satu pengalamannya yang tak terlupakan.

"Betapa susahnya mengelola pemain, penonton, dan pengurus-pengurusnya. Ada satu momen di mana saya dikurung dalam stadion. Saya ditunjuk dan dituduh ini itu. Saya dibilang ini akibatnya kalau pilih artis jadi pengurus. Tapi pada akhirnya orang tidak melihat packaging kalau kita bisa menunjukkan kapasitas yang sama bahkan lebih baik dari mereka," ujar mantan atlet basket tersebut.

4. Premana W. Premadi, Lektor Kepala FMIPA ITB & Direktur Observatorium Bosscha
Dra Premana Wardayanti Premadi PhD adalah wanita yang namanya diadakan dalam tata surya sebagai asteroid. Ia adalah seorang saintis yang juga bukan profesi populer di kalangan wanita. Meski jumlahnya semakin banyak, hingga kini masih belum banyak wanita dalam di bidang STEM. Wanita yang akrab disapa Nana ini mengaku beruntung bisa memahami alam semesta. Ia pun punya saran kepada para wanita lain yang ingin memecahkan 'glass ceiling'.

"Memang butuh support system di tempat kerja agar wanita tak harus memilih karier dan keluarga. Sulit untuk kita bisa melakukan semuanya tapi apapun itu berikanlah kualitas yang terbaik karena dengan begitu kita menjadi orang yang bisa dipercaya,"

"Pertama penting untuk bisa punya clear vision karena tantangan bisa bermacam-macam, bisa dari luar atau diri sendiri dan bisa berubah-ubah sepanjang waktu. Kedua, punya persiapan narasi yakni bagaimana kita bisa menyuarakan posisi kita. Artinya punya kemampuan berdialog yang terbuka dan substansial yang buat orang sadar bahwa itu perlu dikoreksi," kata wanita yang tetap aktif meski mengidap ALS tersebut.

5. Isabella Wibowo, Global Product Partnership Manager Google Asia Pacific
Wanita inspiratif lain yang juga mematahkan stereotip banyak orang adalah Isabella Wibowo. Ia menjadi orang yang bertanggung jawab dengan Google Maps. Padahal banyak orang menganggap jika wanita tak pandai membaca peta. Dalam divisinya, wanita yang akrab disapa Bella ini pun tak menemukan banyak teman sesama wanita. Dalam 10 tahun belakangan, ia pun telah bekerja di tiga negara, tiga perusahaan, dan tujuh posisi.

"Dari semua pengalaman saya, kuncinya adalah grit dan kerja keras. Tapi bukan ngotot selama kita percaya apa yang kita lakukan adalah yang terbaik dan ada passion di situ, jangan keluar dalam keadaan yang sulit. Misalnya dapat role yang susah coba perform dulu. Kalau bisa jadikan grit teman baik yang kita harus nurture," kata Bella.

6. Silvia Hakim, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta
Silvia Halim merupakan Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta. Wanita yang sebelumnya anti datang ke Jakarta karena kemacetan tersebut berpengalaman dalam mengurusi transportasi Singapura selama 12 tahun. Namun pada 2016, ia terpanggil untuk mengajukan diri membantu membangun MRT demi membantu negara sendiri.

Dengan membuktikan diri bahwa ia memang sebaik bahkan bisa lebih hebat dari pria, Silvia sukses mematahkan stereotip mengenai wanita dalam pekerjaan yang didominasi lawan jenisnya. Ia pun mengingatkan sesama wanita untuk menghilangkan kebiasaan men-stereotipkan diri sendiri yang kadang dilakukan tanpa sadar.

"Kita harus mematahkan stereotip yang terbentuk dari diri sendiri yang memang sering dilakukan tanpa sadar bahwa wanita seharusnya seperti ini, misalnya harus lemah lembut, ngomongnya nggak boleh kasar, emosional, galau karena PMS. Itu lah yang membuat kita berpikir kita nggak cocok atau nggak bisa kerja di area yang didominasi laki-laki," ujarnya. (Wolipop/c)
T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments