Jumat, 05 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran
  • Home
  • Sinar Wanita
  • Indonesia Fashion Week 2014, dari Busana Etnik hingga Futuristik

Indonesia Fashion Week 2014, dari Busana Etnik hingga Futuristik

Minggu, 23 Februari 2014 19:52 WIB
SIB/Ist
Jakarta (SIB)-  Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu, Kamis, (20/2),  membuka Indonesia Fashion Week (IFW) 2014 di Jakarta Convention Center (JCC). Sama seperti Fashion Week lainnya di kota mode dunia, IFW pun menawarkan tren busana saat ini dan ke depan. Bahkan di IFW, perancang Indonesia mengetengahkan busana etnik menjadi futuristik. Satu contoh, tengoklah gaun Marie Pangestu. Bahannya batik tapi jadi sangat menarik. Dengan busana two-pieces yang simple di dominasi warna hitam bermotif batik di area tengah badan dari leher hingga di bawah pinggang, tampilannya berkesan glamour.

Bagi para pecinta fashion, pemanasan mode di IFW 2014 baru saja dimulai. Jika tamu-tamu yang datang di pagi hari terlihat berbusana etnik dengan motif-motif batik berpadu dengan aksesoris-aksesoris modern. Maka pada gelombang show berikutnya, para wanita-wanita dengan gaya glam dan moderen mulai menampakkan dirinya.

Orang-orang datang dengan adibusana, berseliweran dengan menjinjing tas Channel di acara fashion bergengsi di Indonesia ini.
Suasana bahasa para tamu menjadi sedikit rancu antara tamu-tamu asing yang memang berbahasa Inggris dengan orang-orang Indonesia yang banyak menyelipkan percakapan bahasa Inggris ketika bercakap-cakap.

Tampilan glam para tamu terlihat dengan banyaknya penggunaan sepatu boot, aksesoris yang blink-blink, dan make up yang menawan dan cenderung tebal.

Beginilah dunia fashion!
Di dalamnya penuh dengan kilatan-kilatan dan hiruk pikuk mode. Bio di SCTV memaparkan, tidak perlu khawatir sedang tertangkap mata tengah memperhatikan busana orang. Semua orang di sini melakukannya. Baik secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, tiap orang saling memperhatikan penampilan satu sama lain.

Ruang publik di sini terisi dengan `lomba public` dalam hal cara berbusana. Semua yang ikut di dalamnya adalah peserta dan semuanya juga adalah juri-jurinya.

Di antara lalu lalang para tamu yang sedang berkompetisi itu berdiri booth-booth yang menyampaikan pesan tentang satu hal yang esensial.
Pesan itu berbunyi `Indonesia`. Dengan berkeliling di aula Jakarta Convention Center pada event Indonesia Fashion Week ini, Anda akan jamak melihat booth-booth yang memamerkan produk-produk local yang tradisional, seperti berbagai jenis batik dan kain-kain lain dari berbagai daerah di Indonesia
Hal serupa juga hadir dalam fashion show Indonesia Trend Forecasting dengan tema Re+Habitat.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  menjelaskan bahwa untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat mode dunia, Indonesia harus dapat menjadi trend setter. Dan untuk dapat menciptakan trend, insan-insan fashion Indonesia harus dapat memprediksi trend fashion di kota-kota besar di dunia dan kemudian diterjemahkan ke dalam situasi fashion Indonesia.

Karya-karya dalam fashion show bertema `Indonesia Trend Forecasting` ini merupakan hasil pandangan para desainer tentang situasi dunia di masa depan yang disimpulkan dengan kata Re+Habitat.

Re+Habitat itu dalam pandangan para ke 15 desainer yang berasal dari 12 sekolah mode di Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Ilo Saputra (Institut Kesenian Jakarta), Iwan Amir (Universitas Negeri Jakarta), Maya Agustini (Bunka School of Fashion), Priscilla Maharani (Lasalle College Internasional – Jakarta), Suci Fitria (Sekolah Tinggi Desain Indonesia – Bandung), dan Vonny Kirana (ESMOD).

Antrean yang panjang layaknya suasana antrean konser musik terjadi saat pintu ruang fashion show dibuka di Kamis sore tadi. Masuk ke arena, para pengunjung disuguhkan musik latar dengan genre Jazz yang menenangkan.

Gambar-gambar menawan muncul di layar harmonis dengan lantunan instrumentas Jazz tersebut. Re+Habitat dirinci sebagai sebuah situasi di mana dunia menginginkan masa depan cerah yang lebih tenang dan peduli lingkungan.

Pembacaan para desainer terhadap harapan global ini kemudian dibawa kepada unsur-unsur dekoratif budaya lokal sehingga secara umum tercipta karya-karya yang memiliki ciri lokal Indonesia di dalamnya.

Rancangan-rancangan tersebut dikategorisasi ke dalam 4 judul yaitu, Alliance, Bio Mimetics, Androit, dan Veracious. Berikut ini adalah ulasan masing-masing judul tersebut:

1. Alliance
Koleksi ini bergaya futuristik. Warna putih yang dominan dalam koleksi ini dapat dimaknai sebagai pembacaan tentang masa depan yang lebih murni tanpa noda-noda moderenitas dalam berbagai bidang seperti yang terjadi sekarang ini. Desain yang out of the box dengan permainan garis-garis geometris baik pada corak maupun potongan.

2. Bio Mimetic
Warna-warna gelap, seperti hitam dan ungu tua, banyak terlihat dalam koleksi ini. Sedikit mengherankan karena dalam karya ini, desainernya nampak menggambarkan masa depan yang terkesan lebih kelam dengan warna-warna gelap tersebut. Desain dengan nuansa moderen yang kuat seperti mencerminkan sebuah masa depan dengan kemoderenitasnya.

3. Androit
Dalam judul ini, koleksinya bergaya funky dan berjiwa muda. Show ini seperti sebuah pernyataan tentang masa depan dunia yang berada di tangan pemuda-pemudi. Warna-warna terang, misalnya hijau dan kuning, yang ada dalam satu karya menjadi ciri koleksi ini. Kesan keceriaan dalam rancangan-rancangan ini menggambarkan optimisme akan masa depan yang lebih baik dan ceria.

4. Veracious
Tampaknya inilah karya yang paling membawa pengunjung kepada imajinasi tentang masa depan yang tenang setenang laut yang biru. Dominasi warna biru laut ini tidak tampil polos melainkan disertai corak-corak ceria dengan desain yang juga fun.
Masa depan yang tenang dan menyenangkan adalah suasana yang tampaknya berusaha ditampilkan dalam pakaian-pakaian ini sebagaimana fashionista sedang snorkeling di laut biru dan menemukan keceriaan warna-warni ikan di dalamnya.

(T/R9/ r)


T#gs indonesia
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments