Rabu, 08 Jul 2020
PalasBappeda
  • Home
  • Sinar Wanita
  • Ayu Dyah Andari Ubah Kain Sisa Jadi Gaun Ratusan Juta di Fashion Rhapsody

Ayu Dyah Andari Ubah Kain Sisa Jadi Gaun Ratusan Juta di Fashion Rhapsody

Redaksisib Minggu, 01 Maret 2020 19:52 WIB
Empat desainer Indonesia mengusung karya yang mengangkat kepedulian pada lingkungan dalam gelaran Fashion Rhapsody. Mereka adalah Ariy Arka, Ayu Dyah Andari, Chintami Atmanagara, dan Yulia Fandy.

Empat desainer yang juga pendiri Fashion Rhapsody itu mengusung tema Harmoni Bumi dalam gelaran tahun ketiga ajang fashion tersebut.

"Ini acara ke-3 kami dan mempunyai visi misi sustainable, collaboration dan sinergi. Kami ingin menjadikan alam lebih baik, mengurangi pemakaian plastik, memberdayakan sampah menjadi karya di panggung fashion ini," ungkap Yulia saat press conference Fashion Rhapsody, di The Opus Grand Ballroom, Jakarta Selatan (26/2).

Pada Fashion Rhapsody 2020, Yulia sendiri menghadirkan koleksi busana hasil karya kolaborasi dengan pengrajin dari Palembang, Sumatera Selatan. Para pengrajin itu mengolah buah dan daun menjadi pewarna alam.

"Kita bawa kain yang diolah dari pewarna alam, memakai buah-buah atau daun yang jatuh di area perkebunan karet. Kita tidak tebang dan cuma ambil sampah organiknya. Lalu kita jadikan sebagai pewarna alam. Kita harap ini bisa jadi tren," harap Yulia.
Sedangkan desainer Ayu Dyah Andari menghadirkan koleksi baju pesta muslim yang cantik dan anggun di Fashion Rhapsody 2020. Wanita bergelar sarjana teknik industri dari Universitas Gajah Mada (UGM) menghadirkan berbagai gaun yang terinspirasi bunga mawar.

"Bunga mawar diwujudkan dalam lukisan, dibikin di atas tulle, bordir, dalam bentuk gaun dengan cutting Eropa klasik," ujar desainer langganan para artis dalam urusan gaun pengantin muslimah itu.

Ayu juga mengusung tema ramah lingkungan dalam koleksinya ini. Kata Ayu, tidak ada satupun kain yang digunakannya untuk koleksi ini, dibuangnya.

"Yang tersisa tidak terbuang, dibikin aplikasi bunga untuk gaun pesta. Baju wedding yang akan menutup koleksi saya terbuat dari sisa perca organdi berbentuk bunga mawar, disusun jadi gaun pesta yang harganya ratusan juta," ujar desainer muslimah itu.

Founder Fashion Rhapsody lainnya, Chintami Atmanagara juga merilis koleksi busana terbarunya dalam gelaran fashion yang diadakan selama tiga hari hingga 29 Februari 2020 itu. Chintami merilis koleksi yang terinspirasi dari kupu-kupu.

"Saya sangat suka kupu-kupu. Kebetulan nanti saya akan mengeluarkan dua brand. Nagara yang memakai kain indonesia (Jawa Barat) warna alam, dibordir dengan kupu-kupu. Lalu ada brand Cintami Atmanagara juga kupu-kupu karena memang dekornya adalah blossom sky, taman bunga, baju saya taman bunga dengan kupu-kupu. Banyak pakai bordir. Kupu-kupu ini unik dari kepompong, mereka cantik, beraneka warna, berkesan ceria dan sayang sekali hidupnya hanya 10-15 menit. Saya terenyuh, sedih banyak kupu-kupu yang ditangkap untuk jadi hiasan air keras. Kupu-kupu ini layak kita jaga. Biarlah mati sendiri tapi jangan dibunuh dengan cara dijadikan hiasan pakai kaca yang banyak beredar. Saya menentang itu," tutur artis 57 tahun itu panjang
lebar.

Pada 2020 ini, gelaran Fashion Rhapsody menghadirkan runway dengan tema yang berbeda-beda selama tiga hari acara digelar. Tema yang ditampilkan untuk runway semuanya terinspirasi dari alam yaitu Savana, Silk Lagoon, Secret Forest dan Wysteria. Tiap-tiap desainer yang turut serta di Fashion Rhapsody 2020 mengikuti daily runway theme yang telah ditetapkan namun bebas menginterpretasikan tema ke dalam karya mereka masing-masing.

Tema Savana atau sabana diangkat untuk mengumpamakan wilayah datar terbuka yang didominasi oleh padang rumput. Karya yang ditampilkan merepresentasikan awal-awal ketika tanah masih kosong belum ditanami apapun.

Tema Silk Lagoon diibaratkan sebagai ketika padang rumput mulai ditumbuhi dengan berbagai tanaman. Segalanya bertumbuh dengan cepat. Keragaman karya merepresentasikan padang rumput yang mulai dihuni tetumbuhan, dan mahluk hidup.

Tema Secret Forest merupakan penerjemahan yang menggambarkan saat bumi mulai kelelahan dengan eksploitasi dan campur tangan manusia yang cenderung merusak dan mengakibatkan semakin sedikit lahan hidup yang tersisa.

Tema Wysteria diambil untuk menceritakan tentang keadaan alam yang mulai bersemi kembali setelah manusia berhasil melewati masa kelam dan sulit. Hidup baru mulai kembali. Tunas tumbuh memberi harapan baru.

"Kami mengambil tema ini untuk menyadarkan diri kita sendiri bahwa kita perlu berbuat sesuatu untuk menunjukkan kepedulian agar alam menjadi lestari. Mulai dari diri sendiri dahulu, meskipun dari hal yang paling sederhana sekalipun. Misalnya mengurangi pemakaian plastik. Untuk desainer mode, sebagai penyumbang limbah bahan paling banyak, tentu perlu dipikirkan untuk mengubah limbah menjadi benda berharga", pungkas salah satu perancang busana yang juga founder Fashion Rhapsody, Yulia Fandy. (Wolipop/d)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments