Sabtu, 04 Apr 2020

CERPEN

Yang Terpintar

Karya Deni Yunus Rambe - SMAN 2 Rantau Selatan
Redaksisib Minggu, 16 Februari 2020 20:19 WIB
wordpress.com

Ilustrasi

Iyus jadi salah tingkah. Ingin menegur, malu. Bagaimana jika tegurannya dibalas cuek. Soalnya, di akun FB sudah dicobanya membuka komunikasi tapi tak direspon. Padahal, suer... ia ingin membangun kebersamaan dengan Ryan.

Selama ini penilaiannya pada rekan sekelas itu salah. Iyus menuduh sahabatnya itu sombong. Angkuh. Tengoklah gayanya berpakaian. Rapi kurang rapi. Sudah bersih kali pun masih terus membebani kemeja dan pantalonnya.

Ryan memang terlihat lebih bersih dari kawan-kawan yang lain. Ia tak suka lari sana lari sini. Datang ke sekolah, ya... untuk belajar. Jika istirahat, digunakannya untuk tetap di kelas. Membaca atau mengutak-atik laptop. Saking seriusnya, ia tidak peduli dengan teman-teman.

Kesan sombong tersebut makin diperkuat dengan kegemarannya yang suka menyendiri. Bukti yang menguatkan tuduhannya tersebut, Ryan pun tak peduli dengan sahabat lain. Misalnya ketika Dian sakit, cuma Ryan yang tak bezuk.

Kalau cuma ngasih sumbangan, siapapun bisa. Caranya itu menandakan priadi yang tak punya empati. Untuk apa kaya, tampan dan dari keluarga terpandang jika tak punya perhatian pada sesama. Tetapi, dugaan tersebut tiba-tiba gugur.

Sekarang Iyus justru mengagumi Ryan. Rupanya selama ini sahabatnya itu punya perhatian lebih dari kawan-kawan yang lain. Tengoklah status akun Ryan.

Setiap ada persoalan di sekolah bahkan di kelas, terus dibahasnya di akunnya. Bahkan, ketika Dian sakit, ia mencurahkan isi hatinya yang ingin memberi terbaik pada Dian. Namun karena keterbatasan, tak dapat dilakukannya.

Iyus yang bodoh. Ryan punya dua akun. Yang selama ini diikutinya akun khusus untuk pelajar berprestasi seluruh Tanah Air.

Akun tersebut eksklusif. Syarat untuk menjadi anggota harus pernah menjuarai level provinsi. Ryan jadi anggota karena meraih ragam hadiah. Iyus ingin menjadi member tapi terhalang syarat mutlak yang tak dapat diganggu-gugat.
“Tapi kamu bisa mengikuti dengan mengadd akunku lho, Yus,” bujuk Ryan.

Itulah awalnya Iyus membuka komunikasi dengan Ryan. Ketika mendengar Ryan mengajaknya bicara, Iyus merasa bersalah. Soalnya... ya itu tadi. Kadung mencap Ryan sombong.

Di akun satu lagi, yang terbuka untuk publik itu, Ryan yang menautkan Iyus dalam grup eksklusif. Disebabkan selalu chat, membuat persahabatan Ryan dan Iyus semakin mencair. Apalagi Ryan selalu mengajak Iyus ke rumahnya.

Ryan memang anak orang kaya. Lihatlah rumahnya yang gedung bertingkat. Ala seperti sinetron orang kaya di televisi. Model Spanyol rumahnya. Mobil berderet tapi tak pernah dinaikinya bila sekolah.

“Itu mobil dinas kantor orangtuku, Yus,” jawabnya ketika ditanya kenapa tak pernah naik mobil ke sekolah. “Lagi pula, ayah marah kalau aku diantar pakai mobil. Gak apa-apa sih. Yang penting ke sekolah tidak terlambat,” ujar Ryan.

Di kamar Ryan, ada jajaran medali dan trofi. Kamar sahabatnya itu seperti hotel karena ada satu set meja besar lengkap dengan kursi empuk. Kamarnya memang luas.

“Iyus capek? Tidurlah di situ!”
Iyus menggeleng. Suer, menjamah kasur dengan tilam lembut itu, rasa ngantuknya langsung datang.

Pelan-pelan Iyus merebahkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian langsung tertidur. Ia terjaga ketika Ryan membangunkannya.
Iyus terkejut ketika hari sudah menjelang malam. Oleh ayah Ryan, Iyus diantar pulang. Ryan ikut dan menawarkan sahabatnya untuk tidur di rumahnya.

Ajakan tersebut dipenuhi Iyus karena orangtuanya mengijinkan. Iyus pun jadi selalu menginap di rumah Ryan dan disambut hangat oleh orangtuanya.

Selama ini Ryan tertutup dan terus diproteksi keluarganya. Iyus tahu setelah ibu Ryan cerita bahwa anaknya butuh perhatian.
“Maksudnya?”

“Ryan itu punya penyakit. Jadi harus terus dalam kontrol,” cerita ibu Ryan.

Cerita tersebut membuat Iyus paham kenapa Ryan selalu mengisolasi diri. Ryan bahkan bilang ia selalu minder untuk berteman dengan kawan-kawan karena kondisi tubuhnya yang mengidap penyakit.

Iyus sempat heran. Ryan sakit apa? Tubuhnya atletis. Ganteng. Putih bersih. Bandingkan dengan dirinya yang berkulit coklat jorok. Seperti sawo busuk.

“Tante juga pesan sama Iyus,” ujar ibu Ryan. “Perhatikan Ryan kalau di sekolah ya, Nak. Kamu itu sudah Tante anggap sebagai anak sendiri lho!”

Iyus mengangguk. Tetapi ia tak mengerti, apa yang harus diperhatikan dari Ryan. Semestinya Ryan yang harus memerhatikan dirinya.

Seperti kali ini. Iyus ingin mendapat perhatian Ryan. Perutnya keroncongan karena tadi tak sarapan. Nasi goreng yang disiapkan mamanya habis dimakan abang dan adiknya. Tetapi Ryan tak datang.

Sudah hampir seminggu Ryan tak masuk. Tak ada kabar sama sekali. Sedihnya, kawan-kawannya yang ditanya soal Ryan, semua tak tahu. Iyus jadi mati kamus.

Ia beranikan menelpon ibu Ryan. Berulang kali menghubungi, barulah diangkat. Jawaban dari sana justru tangisan.
“Apa, Tante? Ryan diopname?” Iyus ketakutan.

“Minta doanya ya, Nak...”

Tanpa pikir panjang, Iyus minta diantar ke rumah sakit yang disebut ibu Ryan. Ketika hendak masuk, ia hentikan langkah. Malu rasanya tidak membawa oleh-oleh. Roti atau buah, misalnya. Iyus tak jadi masuk dan pulang ke rumah.

Sampai di rumah, mamanya bilang ibu Ryan menelepon dan mencari Iyus. Kembali lagi ia ke rumah sakit. Sebelum masuk, ia ragu-ragu melangkah tapi terlanjur dilihat ibu Ryan.

Perempuan itu memeluk Iyus dengan erat. Dipakainya baju khusus ke ruang ICCU dan mendekati Ryan yang tubuhnya dipasang ragam selang.

Tak sampai hati Iyus menyaksikan Ryan. Pelan-pelan diraihnya tangan Ryan. Sambil berdoa Iyus memegang lebih kuat tangan sahabatnya itu dan tiba-tiba direspon.

“Iyus,” ucap Ryan pelan sekali. Suaranya nyaris tak terdengar. Beberapa saat kemudian mata Ryan kembali tertutup dan alat-alat di ruangan itu mati diiringi bunyi panjang. Seperti alarm.

Ibu Ryan menjerit sekerasnya. Dokter dan perawat berlarian ke dalam. Tangisan sambung-menyambung. Ryan telah pergi menghadapNya.

Iyus menyesal. Kenapa dirinya tidak lebih pintar membaca rahasia yang disembunyikan Ryan? (f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments