Rabu, 03 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Ungguli Taylor Wilson, Anak 13 Tahun Membuat Reaktor Nuklir

Minggu, 09 Maret 2014 18:27 WIB
SIB/int
Jamie Edward
Lancashire (SIB)- Jamie Edwards berhasil menyiapkan uji coba reaktor nuklir. Remaja berusia 13 tahun itu memberitahu kepala sekolah mengenai rencananya membangun reaktor nuklir di kelas. Jamie berjanji bahwa proyeknya ini sangat aman. Tidak seperti yang dibayangkan banyak pihak bahwa yang namanya nuklir selalu berkaitan dengan ledakan yang membahayakan.

Daily Mail dan Tempo.Co, Rabu (5/3), memberitakan, Jamie Edwards menjadi orang termuda di dunia yang berhasil melakukan percobaan fusi nuklir dari sekolah menengahnya di Lancashire, Inggris, menggunakan energi tinggi untuk menghancurkan dua atom hidrogen bersama-sama membentuk atom helium. "Ini adalah sebuah prestasi. Ini benar-benar luar biasa," kata Jamie sesudahnya. "Saya tidak bisa mempercayainya, meskipun semua teman-teman saya berpikir saya gila!"

Keberhasilan Jamie saat ini berhasil mengungguli Taylor Wilson yang melakukan hal serupa dalam usia 14 tahun.
Tiga tahun lalu, tulis Sinar Harapan, Taylor merancang sebuah reaktor nuklir dalam kemasan kecil yang kelak dapat membakar persenjataan atom lama menjadi energi listrik untuk rumah, pabrik, hingga koloni ruang angkasa.

Taylor memang sudah akrab dengan dunia nuklir. Empat tahun silam, cowok 19 tahun ini menjadi buah bibir karena membuat reaktor fusi dari laboratorium nuklir di garasi rumah ayahnya.

Dalam Konferensi TED di selatan California, AS, Kamis, 28 Februari 2012, Taylor mengatakan, "Ini tentang fisi, membawa sesuatu yang lama masuk ke dalam abad ke-21," kata Wilson yang dijuluki Bill Gates di bidang energi ini. "Saya pikir ini berpotensi besar untuk mengubah dunia."

Dia telah merancang sebuah reaktor kecil yang mampu menghasilkan 50-100 megawatt listrik, cukup untuk kebutuhan energi 100.000 rumah.

Reaktor ini dibuat dalam gaya rakitan dan didukung oleh bahan radioaktif cair dari senjata nuklir, kata Taylor. Reaktor modular yang  relatif kecil ini dapat dikirim melalui kapal dalam kemasan yang disegel yang mampu bertahan selama 30 tahun. "Anda dapat menaruhnya di mana saja dan tetap berfungsi, menguburkannya di bawah tanah untuk alasan keamanan," dia merinci desainnya di TED. "Pada Perang Dingin kita membangun gudang persenjataan nuklir yang besar dan kita tidak membutuhkannya lagi," kata Taylor. "Ini akan menjadi besar jika kita memanfaatkan itu, dan reaktor ini menyukai hal-hal seperti itu."

Taylor merancang reaktornya untuk memutarkan turbin menggunakan gas, bukan uap. Dengan begitu, alat ini beroperasi pada suhu yang lebih rendah dibandingkan dengan reaktor nuklir umumnya, dan tidak memuntahkan radiasi apa pun jika semuanya sesuai prosedur.

Bahan bakar dalam bentuk garam cair dan reaktor ini tidak perlu diberi tekanan, kata Taylor yang remaja ini. "Ketika terjadi kecelakaan, Anda hanya perlu mengalirkan inti ke dalam tangki di bawah reaktor dengan peredam neutron dan reaksi berhenti," kata Taylor. "Ketika terjadi kecelakaan, reaktor mungkin akan hangus, yang buruk bagi perusahaan listrik, tapi tidak ada masalah."

Taylor yang lulus sekolah menengah atas Mei 2013, mengatakan menunda masuk universitas untuk fokus pada perusahaannya untuk menciptakan Reaktor Fisi Modular.

Dia melihat pesaingnya adalah  bangsa China dan penghalang upayanya adalah masalah politik, bukan teknis.

Taylor berencana memiliki sebuah prototipe yang siap dalam dua tahun dan produknya akan dipasarkan dalam lima tahun. "Tidak hanya memerangi perubahan iklim, ini dapat membawa energi untuk negara berkembang," kata Taylor dengan optimisme remaja. "Bayangkan memiliki reaktor dalam roket yang dirancang untuk pergi ke habitat planet lain. Anda tidak hanya memiliki energi untuk daya pendorong, tetapi energi untuk sampai ke sana."

(t/r9/f)


Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 08 Maret 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.
T#gs
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments