Sabtu, 04 Apr 2020

Tingkatkan Literasi Milenial dengan Pengenalan Kasih

Redaksisib Minggu, 16 Februari 2020 20:15 WIB
SIB/Dok

Milenial : Aryo Darudjati bersama Aldrich Hubert. Komunikasi kasih membimbing milenial memiliki kualitas literasi. 

Medan (SIB)
Ps Aryo Darudjati STh memahami tingkat ‘kesulitan’ mengarahkan kelompok milenial ke arah kehidupan berkualitas dan terberkati makin berat. Banyak faktor yang memengaruhinya. Mulai banyaknya rayuan hedonis, kemajuan teknologi yang membuat individu cenderung melakukan jalan pintas hingga melakukan segala cara dalam maksud memenangi kompetisi kehidupan sosial ekonomi yang makin kompetitif. “Cuma satu cara, tetaplah berpegang padaNya dengan menanamkan pada milenial untuk mengenal kasihNya,” ujarnya di jeda Praise and Worship di Rumah Bethany Medan di Jalan Pukat 2 Aksara - Bantan Timur, Medan, Jumat (14/2).

Membangun literasi, menurutnya, bukan dimulai dari individu milenial tapi dari pembimbingnya (baca: orangtua). Ia mengutip Matius 7:17-18 tentang pohon yang baik akan berbuah yang baik. Pohon dimaksudkan adalah orangtua. Jika pembimbing tak baik, tidak mungkin menghasilkan buah yang baik.

Ia menunjuk pada identitas orang Kristen yang dilukiskan dengan ‘garam’ dan ‘terang’. “Untuk menjadi seperti identitas tersebut harus dipupuk dan disirami hingga menjadi subur,” ujarnya. “Menjadikan wujud hakiki ‘garam’ dan ‘terang’ harus memiliki beban moral di mana harus melibatkan diri menunjukkan yang terbaik, memberi solusi dalam masalah-masalah dunia ini tanpa harus menjadi duniawi.”

Menurutnya, jika tidak bergelut dan memberi manfaat maka garam menjadi tawar seperti dalam Matius 5:13 dan terang tak dapat menerangi semua orang seperti ditulis dalam Matius 5:15.

Dengan pemahaman akan tanggung jawab, ia mengutip Galatia 2:20 di mana manusia hidup bukan sendiri tapi hidup oleh iman dalam anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku. “Dengan bekal maksimal tersebut maka orangtua sebagai pembimbing milenial mulai menjadi pembimbing sempurna dalam mengisi ilmu dunia dan masuk dalam alur kehidupan yang diberkatiNya,” ujar Ps Ps Aryo Darudjati.

Dari ukuran dunia, ujarnya, milenial Indonesia di posisi rendah tingkat literasi.

Survei World Culture Index 2018 menunjukkan Indonesia di urutan 60 dari 61 negara. Tingkat literasi rendah tak hanya dari sisi minat baca, juga minat menulis yang lebih rendah. “Cara utama menaikkan posisi hingga lebih berkualitas, memahami apa yang disukaiNya. Bila individu melakukan bertentangan, langsung ajarkan. Artinya, cara sedemikian menumbuh keberanian menunjukkan hal yang ideal dengan landasan kasih,” ujarnya.

Ia mengatakan, jangan pernah sangsi apalagi takut membuat orang tersinggung bila melakukan pembenahan yang benar sesuai parameter kasihNya. “Bila terus melakukan koreksi dan menunjukkan yang ideal, lambat atau pasti tingkat lilterasi akan terkoreksi ke arah lebih baik. Minimal dari sisi kualitas mengemukakan pendapat,” tegasnya.

Sejalan dengan keberanian bersuara, otomatis membuat yang bersangkutan memboboti dengan membaca serta membaca. Selanjutnya, ya menulis yang dimulai dari orat-oret seperti membuat catatan garis besar. (R10/f)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments