Rabu, 19 Jun 2019

Teknologi Digital Cenderung Ciptakan Generasi Instan

admin Minggu, 05 Mei 2019 19:37 WIB
SIB/Dok
GENERASI INSTAN: Pimpinan Perguruan Methodist 7 Medan Erison Sitorus bersama Kepala SMA Methodist 7 Medan Drs Poltak Simorangkir serta sejumlah pendidik pembimbing Berti Herawati Dongoran, Pieter Sibuea, Samuel Simaremare, Elina Yen, Kevin Saragih, Sarah Naiborhu, Sumelia dan Runiaty Sinaga serta siswa usai perayaan Paskah di Medan, Jumat (3/5).
Medan (SIB) -Peserta didik pendidikan menengah dan atas sudah terkonvergensi dengan teknologi digital. Kelompok lebih muda setingkat siswa sekolah dasar, sudah mulai mengadopsi hal serupa. Tetapi, proses demikian harus dicermati dan diboboti dengan muatan character building berdasar moral agama dan moral dari kearifan keindonesiaan. Bila tidak, muncul kecenderungan 'menciptakan' generasi instan atau pribadi yang 'mendewakan' teknologi.

Hal tersebut diucapkan Erison Sitorus usai perayaan Paskah keluarga besar Perguruan Methodist 7 Jalan Madong Lubis Medan, Jumat (3/5). Pakar teknologi informasi itu mengatakan, masuk ke era Revolusi Industri 4.0 maka tiap individu tidak dapat berjarak dari teknologi tapi harus diikuti dengan langkah-langkah cerdas guna mengantisipasi timbulnya hal-hal kontraproduktif, yang dapat mengganjal upaya penciptaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

Menurutnya, pendidikan adalah satu pintu besar dalam upaya menciptakan SDM yang berkualitas, tapi tak mutlak domain guru. Semua pihak para pemangku kepentingan harus bersinerji untuk mengembangkan nalar yang mengacu pada need for achievement. "Di negara maju, seperti Finlandia dan Jepang, bagaimana mengupayakan agar peserta didik mengeksplorasi hal lain di sekitarnya guna mengasah keterampilan soft skill di luar kegiatan sekolah formal," tegas Pimpinan Perguruan Methodist 7 Medan tersebut. "Artinya, pelajaran di sekolah perlu tapi pengembangannya sama sebangun dengan upaya pembobotan skillnya!"

Erison Sitorus memaparkan, berinteraksi dengan teknologi digital menimbulkan kegandrungan. Menekan hal-hal yang tidak diinginkan maka harus dipastikan muatannya merangsang hal-hal positif.

Data yang dikemukakan Quipper Indonesia sebagai platform edukasi berbasis teknologi, mengemuka hal-hal yang harus dicermati.

Pertama, 85 persen siswa lebih menyukai belajar menggunakan smartphone untuk menonton video pembelajaran. Pemetaan itu sejalan dengan program pendidikan berbasis Internet. Tetapi, hanya 15 menit siswa yang fokus menyimak video pembelajaran tersebut. "Artinya, siswa harus dituntun untuk tetap fokus pada pelajarannya," tambah Erison Sitorus.

Berdasarkan analisis tersebut, peserta didik justru tidak fokus pada konten belajar di saat hendak ujian tapi memrioritaskan hal-hal yang sifatnya entertainment. Kenyatan tersebut, lanjutnya, pelajar cenderung menyukai sistem kebut semalam dalam belajar menghadapi ujian atau belajar secara instan.

Ia menunjuk pembelajaran di Perguruan Methodist 7 Medan di mana diterapkan metode belajar dengan teknologi digital tapi detik demi menit hingga tiap jam serta selanjutnya, siswa diikuti perkembangannya. "Artinya, jangan sampai peranti canggih menyuburkan generasi instan. Soalnya, bila butuh satu jawaban, tinggal klik ke Google. Artinya, otak siswa tersebut 'kosong' ilmu dan semata mengandalkan bantuan," tegasnya didampingi sejumlah pendidik seperti Berti Herawati Dongoran, Pieter Sibuea, Samuel Simaremare, Elina Yen, Drs Poltak Simorangkir, Kevin Saragih, Sarah Naiborhu, Sumelia dan Runiaty Sinaga.

Drs Poltak Simorangkir menambahkan, metode yang diadopsi dan dilaksanakan di Perguruan Methodist 7 Medan adalah pendampingan dan pembimbingan terarah. "Dalam pada itulah peserta didik diajak untuk memahami apa yang terbaik ke depan hingga pengembangan need for achievement terarah sesuai minat dan bakat," tutup Kepala SMA Methodist 7 Medan tersebut. (R9/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments