Sabtu, 06 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Tak 'Kan Terulang

karya Chintya Clara Girsang - SMAS RK Serdang Murni Lubukpakam
redaksi Minggu, 24 November 2019 19:13 WIB
publicdomainvectors.org
Ilustrasi
Laila jadi geram sendiri. Kawan-kawannya menjodoh-jodohkan dengan Aldi. Alasannya, sama-sama pintar, sama-sama berkharisma dan sama-sama culun. Lalu, kalau ada persamaan, langsung sejodoh? Zaman udah berubah. Apalagi tak hanya Aldi seorang pria sejati di bumi yang makin padat ini.

Suer, jika heart to heart, Laila sukanya pada Farhan. Bukan hanya ganteng dan tajir tapi kepeduliannya. Yang paling membekas di hati Laila ketika mereka bertemu di jalan. Farhan langsung mendekat dan mengajak pergi bareng.

Lho, bagaimana bisa bareng. Laila naik sepeda pink hadiah ulang tahun dari papanya. Benda itulah yang paling membekas di hatinya. Soalnya, beberapa saat setelah mahir naik montain bike itu, orang yang dikasihinya tersebut menghadapNya.

Alasan itulah yang membuat Laila terus naik sepeda ke sekolah. Soalnya, papanya pun mengajarinya untuk hidup sehat.

"Kalau tidak, aku mendorongnya ya. Biar sama-sama sampai di sekolah," tawar Farhan. Ia ingin mendorong sepeda yag dinaiki Laila agar sahabatnya itu tidak berkeringat dan cepat sampai.

Meski menolak, Farhan ngotot. Ia bahkan menawarkan, Laila yang naik sepeda motor dan Farhan mendayung sepedanya.
Laila jadi geli sendiri. Pria kok naik sepeda pink. Lagian, ah... karena terus ngotot, ia ngalah. Aksi keduanya direkam dan diunggah ke Medsos.

Laila girang. Yang dikhawatirkannya justru Farhan. Marahkah? Malukah? Jangan-jangan karena aksi itu ia tidak mau lagi melakukan hal serupa.

Tetapi Farhan terus saja mengajak Laila pergi-pulang bareng. Kadang Laila menolak tapi tetap saja Farhan membujuk. Alasannya, sejurusan. Uniknya, meski tiap hari pulang-pergi sama, Farhan tak pernah mau singgah ke rumah Laila.

Padahal Laila ingin memberi minum. Membuatnyakan jus agar Farhan tak terlalu penat. Tetapi, karena Farhan tak pernah mau pula yang membuat kawan-kawan mencomblaginya dengan Aldi.

Semakin dijodoh-jodohkan, Laila semakin kesal. Pokoknya, tidak! Titik. Daripada sama Aldi, lebih baik menjomblo. Ia masih berharap Farhan membuka hati. Apalagi ia tahu Farhan tidak ada gandengan.

Teman perempuannya banyak. Tengoklah followersnya, segudang. Tapi, mudah-mudahan Farhan masih seorangan. Laila ingin bertanya, tapi malu. Masakan perempuan yang lebih agresif ketimbang cowok. Zaman emang sudah berubah, tapi kalau untuk yang prinsip seperti itu, tidak.

Paling-paling Laila bertanya kapan rencana nikah. Ah, itu pun sudah terlalu lancang. Berani-beraninya bertanya soal itu. Tetapi, pertanyaan tersebut jadi persoalan.

Farhan ngotot, apa alasan Laila bertanya soal nikah. Pikinya, Laila mau nikah. Kok cepat amat. Baru masuk semester IV. Namun, ah bisa saja. Soalnya Laila kan anak pertama di keluarganya. Apalagi orangtuanya sudah meninggal.

Mungkin ia ingin membahagiakan ibunya yang single parent. Atau mungkin dijodohkan ibunya karena ingin cepat punya cucu. Tetapi, kenapa tidak denganku?

Farhan nekad bertanya soal itu. Laila menjawabnya dengan serius. Duhai, berarti emang sudah punya rencana menikah. Farhan memerhatikan Laila dengan sangat serius.

Fisiknya menarik hati. Dari bentuk tubuhnya, Laila memang sudah pantas menjadi ibu. Usianya sudah menjelang 20 tahun.
"Kamu kapan nikah?"

"Maksudnya?" sambar Farhan. "Aku persilakan kamu menikah lebih dulu. Aku ingin bernyanyi pesta pernikahanmu!"
Laila terdiam. Kesal juga dengan ucapan Farhan. Ia berharap sahabatnya itu melarang, tapi kok justru menyilakan.

Ingatannya kembali ke saat SMU ketika dijodoh-jodohkan dengan Aldi yang sekarang sudah menikah. Andai dulu mengikuti saran kawan-kawan, Laila sudah menikah sama Aldi.

Tetapi, akibat ucapan Farhan, semalaman Laila tak bisa tidur. Sampai ngantuk-ngantuk di kuliah. Ia jadi ngamang. Sia-sia mengharap cinta suci Farhan. Toh pria yang masih terbaik di hati Laila itu tak pernah memberi lampu hijau.

Pelan-pelan Laila membangun kepercayaan diri. Ia ingin move on dari Farhan. Meski setiap hari komunikasi, ia melirik ke pria lain di kampus, lelaki lain dari fakultas tetangga dan kaum Adam lain yang tiap hari berjumpa dengannya di mal di dekat kampus.
Ada sih seorang pria parlente yang sudah setahun belakangan dikenalnya. Tetapi lelaki itu terlalu the have buatnya. Kaum Adam tajir itu eksekutif di perusahaan asuransi.

Bicaranya mengalir indah, seperti peluru film eksyen yang dimuntahkan Rambo saat menyerang musuh. Tetapi orang marketing memang begitu. Laila pun berlahan menjinakkan diri.

Sekarang sudah bersedia makan siang sepulang dari kampus. Bahkan nonton bersama lelaki tersebut. Walau kadang dapat melupakan Farhan, tapi sesungguhnya masih mengharap rekannya sejak SMA tersebut.

Suatu kali, ketika lagi ngemal, Laila bertatap mata dengan Farhan tapi rekan yang selalu berbarengan dengannya itu langsung menghindar. Laila langsung teriak. Ia memanggil sampai Farhan menoleh.

Agak susah ia membujuk agar Farhan mau kenalan dengan lelaki yang sekarang dekat dengannya.
"Kau jangan menyakitiku, Laila. Apa maksudmu mengenalkan seorang pria padaku?"

"Lho," Laila terpelongo. "Kamu marah?"

"Aku bukan malaikat!" Dihempaskannya tangan Laila. Ditinggalkannya perempuan itu sendirian di kafe. Padahal, Farhan yang mengundang Laila untuk datang sendiri.

Ia kesal. Sakit hati. Menyesal mengenal Laila dan berharap jika ujungnya perempuan yang dikaguminya itu pergi bersama pria lain.Yang bikin sakit hati, Laila pergi dengan om-om senang. Hhh, menjual...

Laila menangis. Setelah hatinya dingin, ia beranikan menelepon Farhan. Minta dijemput di tempat di mana ia ditinggalkan. Setelah bertemu, ia tumpahkan kekesalan.

Lama keduanya terdiam. Keduanya seperti autis, fokus pada smartphone masing-masing. Ketika diingatkan pelayan, baru sadar sudah begitu malam.

Sambil menuju ke parkiran, Laila menumpahkan seluruh isi hati. Farhan baru sadar, bahwa selama ini gengsi mengungkapkan isi hati.
Dipeluknya Laila. Erat, seperti tak ingin berpisah.
T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments