Sabtu, 06 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Curhat

Sudahlah, Aku Fokus ke Studi Saja....

oleh Dwi Candra Ardinata, SMAN 2 Rantau Selatan. Labuhanbatu
Minggu, 16 Maret 2014 22:03 WIB
Benar kata orangtuaku. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal harus konsentrasi penuh dalam pelajaran. Tetapi, bagaimana harus fokus jika setiap ke sekolah, sosok Dicky tetap saja menghantui pikiranku. Apalagi bila ke kantin. Dari kejauhan saja sudah dengar canda ceria dan suara khasnya.

Aku Dila, murid kelas XI IPA 4 SMAN 2 Rantau Selatan, Labuhanbatu. Pertama kali jumpa dengan kakak kelasku itu, aku biasa saja. Tapi karena selalunya Dicky memerhatikanku, membuatku terbiasa dekat dengannya. Ketika ada getar yang luar biasa di hatiku, Dicky justru langsung mengatakan suka.

Aku menyambutnya dengan bahagia. Itu sebabnya setiap hari Dicky antar-jemputku ke sekolah. Memang kebetulan rumahnya dan kediamanku sejalur hingga tak terlalu merepotkannya. Tetapi, ketika sekali waktu diajak ke rumahnya, aku terperanjat dengan seorang pria lain yang bangun tubuhnya hampir sama dengan Dicky. Pria itu saudara kembarnya. Dickye namanya.

Beda dengan Dicky yang segan ke rumahku, Dickye justru agresif. Ia bahkan jadi lebih dekat dengan mama papaku ketimbang Dicky yang sudah berulang kali mampir ke rumahku. Lama kelamaan pula aku jadi lebih tertarik dengan Dickye.

Dicky sepertinya tahu hal itu tapi aku tetap membantah punya perhatian istimewa dengan kembarannya. Apalagi Dickye bilang, jangan beri tahu pada Dicky bahwa dirinya selalu mengajakku jalan-jalan bahkan nonton bersama.

Suatu kali, aku dan Dickye tak bisa mengelak. Dicky menemui kami sedang nyantai. Wajahnya merah, menyimpan marah. Meski di depan Dickye, ditariknya tanganku dan langsung mengatakan putus. Mungkin, jika tak ada orang lain, minimal sudah diludahinya aku.

Aku tak mau pisah darinya. Apalagi aku tahu Dickye tak menetap di kota ini. Kan gak mungkin cinta jarak jauh. Padahal tiap hari ketemu dengan Dicky. Apalagi hatiku kadung suka dengannya. Tetapi, karena kasus itu, Dicky benci padaku.

Jangankan mengantar-jemput, melihat wajahku saja Dicky benci. Seperti mau muntah melihatku. Aku pun tak dapat bilang apapun terhadap putusannya. Namun harus kukatakan juga, aku tak dapat tenang tanpa kelanjutan hubungan dengan Dicky.

Karena Dickye sudah pergi kembali ke sekolahnya di luar pulau, kuberanikan diri menemui Dicky di rumahnya. Ia menyambut dengan baik, tapi... jika untuk baikan seperti dulu, tidak!

Tapi aku tak bisa melupakannya. Setiap saat, ingat Dicky. Ini membuat prestasi belajarku menurun drastis.

Semua cara kulakukan tapi Dicky tetap bertahan dengan putusannya. “Terlalu sakit kau perlakukan aku dengan mengkhianati kepercayaanku. Yang paling sakit, kau bercumbu dengan kembaranku! Pengkhianat!”

Aku menangis sejadinya. Kuakui kesalahanku. Dicky memaafkan tapi tak dapat melupakan. Meski demikian, ia bersedia berteman denganku tapi hanya sebatas teman. Dicky janji membimbingku untuk kembali berprestasi dalam pelajaran.

Karena tetap dengan pendiriannya, aku harus berterima kasih pada Dicky. Sudahlah, kucoba fokus ke studi saja....

(c)


T#gs FOKUS
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments