Jumat, 05 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran
  • Home
  • Sinar Remaja
  • Siap Ayah Tak Pulang Selamanya tapi Jangan Sakiti Kami dengan Spekulasi

Putri Pilot Malaysia Airlines:

Siap Ayah Tak Pulang Selamanya tapi Jangan Sakiti Kami dengan Spekulasi

Minggu, 23 Maret 2014 21:28 WIB
Kuala Lumpur (SIB)- Misteri keberadaan pesawat Malaysia Airlines nomor penerbangan MH370 terus mengundang perhatian dunia. Orang dari berbagai penjuru bumi bertanya-tanya di manakah burung besi yang mengangkut 239 orang itu berada. Salah seorang yang merasa sangat prihatin atas tragedi hilangnya pesawat itu adalah Nur Nadia Abdul Rahim, putri pilot senior di Malaysia Airlines yang bernama Kapten Abdul Rahim Harum.

Situs berita Malaysia, New Straits Times dan Tempo.Co, memuat surat pada Senin, 17 Maret 2014. Di suratnya yang berjudul The Flying Driver  itu, Nur Nadia mengungkapkan betapa bangganya punya ayah sebagai pilot, sekaligus penyesalannya karena selama ini ia menganggap pekerjaan ayahnya tidak berbahaya. Nur selama ini menetap di Australia untuk studi tapi sejak peristiwa nahas itu langsung berkumpul dengan ibunya di Kuala Lumpur, Malaysia dalam penantian bertaruh asa.

Berikut ini suratnya:
"Catatan ini seharusnya saya buat sejak lama agar ayah tahu betapa bangganya saya atas ayah. Saya bangga atas apa yang dia lakukan, meskipun dia jarang berada di sampingku selama hampir setengah dari hidup saya.

Saya menyesal karena pernah merasa malu untuk mengatakan ke teman-teman bahwa ayah adalah seorang pilot. Padahal, ayah adalah pilot yang sangat baik.

Penerbangan pertama saya ialah menuju Kinabalu. Ayah sendiri yang menjadi pilot pesawatnya. Dia pilot favorit saya. Saya diberitahu kalau saya tidak begitu senang dan saya anak yang sulit waktu itu (tapi menyenangkan?). Namun, akhirnya saya tumbuh mencintai bandara dan penerbangan.

Ayah, seperti kapten pesawat Malaysia Airlines yang hilang, telah bekerja lama di maskapai ini, sejak mereka lulus sekolah. Seringkali, kami membujuk ayah untuk pindah ke maskapai penerbangan lain.  Tapi dia menolak karena ingin tetap dekat dengan kami sesering mungkin. Padahal, bisa saja keluarga kami menjadi lebih makmur jika ayah menerima tawaran-tawaran itu, seperti bersekolah gratis di sekolah internasional, semua biaya hidup ditanggung, diberi sopir untuk mengantar kami. Hal-hal semacam itulah yang dicari para pilot di Malaysia Airlines.

Memiliki ayah seorang pilot, berarti saya hanya memiliki ibu yang melakukan semuanya, seperti mendatangi hari pertama sekolah, pemberian penghargaan di sekolah, lomba-lomba, ulang tahun, bahkan hari raya. Kejadian paling menakutkan yang pernah terjadi saat ayah sedang terbang adalah rumah kami dirampok tiga orang bertopeng. Hal ini terjadi waktu ibu sedang mengandung tujuh bulan. Dia mengatasi semuanya sendiri.

Saya ingat bagaimana saya tersedu-sedu saat guru Bahasa Inggris bertanya ke kami satu per satu, apa yang paling kamu ingat dari ayah? Aku berdiri dan menjawab, "Dia tidak selalu ada, setidaknya selama separuh dari waktu saya."

Sepanjang hidupnya, kehadiran ayah buat kami selalu ditentukan oleh selembar kertas yang kerap dia berikan kepada kami setiap awal bulan. Kertas itu merupakan jadwal penerbangannya. Jadi, ayah suka kesal kalau aku bertanya, "Ayah akan terbang ke mana?" karena dia sudah memberikan jadwalnya kepada kami.

Setiap kali ayah berangkat kerja, kami pasti selalu mengantarnya sampai ke depan rumah, melihat dia dijemput mobil bandara. Terkadang, jika dia harus terbang Subuh, kami akan saling mengucapkan salam sebelum tidur. Dan setiap kali ayah pulang, kami akan menyambutnya di depan pintu rumah. Aku tidak pernah menyadari betapa pentingnya kebiasaan-kebiasaan itu sampai tragedi MH370 terjadi.

Namun, di dalam hati keluarga kami tahu, setiap kali ayah bertugas, kemungkinan menerima telepon bernada sedih yang mengabarkan ayah tidak bisa pulang selama-lamanya selalu ada. Hal itu kami terima sebagai bagian dari hidup kami sehari-hari.

Ayah terus-terusan mengikuti pelatihan. Ayah punya jadwal rutin untuk memeriksa kesehatannya, agar dia tetap fit untuk terbang. Dia juga mengikuti ujian seperti pelajar. Buku manual penerbangannya sama tebalnya dengan buku ilmu kedokteran yang kupelajari.

Dalam menjalankan profesinya, ayah adalah seorang yang mengidap OCD (Obsessive Compulsive Disorder), karena dia ingin memastikan semuanya berada dalam tempat yang benar. Bahkan, dia tidak pernah datang terlalu cepat atau terlambat meski semenit kalau dia sudah berjanji. Dia selalu tepat waktu.

Ini adalah potongan kisah kehidupan keluarga awak pesawat. Awak yang berkorban banyak agar mereka bisa menghubungkan titik A dengan titik B.
Marilah kita memberikan dukungan, doa, dan ruang bagi keluarga-keluarga yang terpengaruh tragedi MH370. Sebelum Anda membuat penilaian, menunjuk, atau bahkan menyebarkan teori dan spekulasi, ingatlah bahwa Anda tidak hanya menyakiti keluarga awak pesawat yang hilang, tapi juga keluarga besar Malaysia Airlines.

Di mana pun MH370 kini berada, kami berdoa  Anda kembali.

(t/r9/f)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.


T#gs
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments