Selasa, 12 Nov 2019

Selamat Tinggal SMA

Karya Agnes Turnip - SMAN 2 Rantau Selatankar
admin Minggu, 16 Juni 2019 12:53 WIB
Agnes, Thersia dan Irma berlari ke pojok kantin. Di sana sudah ada Kak Ijal, Kak Niko, Kak Juni bersama tin anggota Pramuka. Mereka sama-sama terkejut.

"Lulus semua, kan!"

Tidak ada jawaban dari pertanyaan Kak Juni itu tapi yang ditanya menjawab dengan senyum.

Dari kejauhan tergopoh-gopoh There berlari. Tiga kawannya menduga ada satu hal penting. Perhatikanlah wajahnya yang agak pucat. Sakitkah? Aduh, jangan-jangan There gak lulus! Soalnya ia selalu bilang begitu, feelingnya mengatakan tidak lulus karena saat ujian ia tidak fokus.

"Ada apa," kejar Thersia begitu There sampai. "Ada yang dapat kami bantu?"

Tangan There dingin. Dingin berkeringat. Ia tergagap. Tak bisa bicara apapun. Agnes, Thersia dan Irma mengusuk-ngusuk tangan, pundak dan kepalanya.

Setelah lama saling diam, There menangis. Semakin dibujuk untuk diam, air matanya semakin menitik. Sahabat-sahabatnya jadi tak tahu harus berbuat apa.

Meski sudah diberi teh manis panas, There belum dapat mengontrol diri. Tangisannya masih ada, kecil tapi air matanya tetap menitik. Thersia sudah menyimpulkan There tidak lulus.

"Kamu harus berbesar hati lho," bujuk Irma.

"Perjuangan tak berakhir di sini," tambah Agnes. "Masih panjang perjuangan. Yang penting, harus semangat!"

Mereka memastikan There tidak lulus. Kasihan. Tapi anehnya, mengapa bisa terjadi. Bukankah There termasuk pintar. Jika dibanding kawan segengnya, There masih lebih cerdas.

Agnes, Thersia dan Irma selalu minta pengajaran dari There. Tetapi memang mungkin saja Dewi Fortuna belum memihak padanya. "Tenanglah, Ther..." bujuk Agnes.

Setelah lama terdiam, There mulai bicara. Tapi lagi-lagi suaranya tercekat. Kemudian nangis lagi. "Aku takut pulang," ujarnya pelan.
"Kenapa?"

"Papaku pasti marah," sahutnya. Kali ini ia nangis lagi. Bukan soal hukuman yang ditakutkannya tapi There tak tega dengan orangtuanya yang sudah mahal-mahal membiayainya sekolah namun hasilnya tidak seperti yang diinginkan. "Betapa berdosanya aku. Ampunilah aku, Tuhan!"

"Kamu gak salah lho!"
"Gagal ujian bukan berarti kiamat!"

Tetapi, apapun yang diucapkan kawan-kawannya, There sudah merasa gagal. Bahkan kakak pembina Pramuka membujuknya, ia tidak dapat membuang kehawatiran. Baginya, tak dapat memenuhi keinginan orangtuanya adalah kesalahan fatal.

Agnes, Thersia dan Irma membujuk There untuk tidak bersama di rumah Kak Juni. Soalnya Kak Juni dekat dengan orangtua There. Tetapi There tak mau.

Ia ingin pergi ke rumah oppungnya di kampung. Baginya, mengadu sama orangtua dari orangtuanya jauh lebih efektif karena dapat menghibur hatinya. Namun ketika diajak lebih dulu ke rumahnya untuk mengambil baju-baju, There tak mau.

Ia minta dipinjamkan baju-baju Agnes, Thersia dan Irma. There bahkan rela menunggu lama-lama di sekolah demi mendapat bantuan dari sahabat-sahabatnya tersebut.

Sampai petang, There menunggu di luar sekolah. Syukur didampingi Kak Ijal. Namun, setelah beberapa busana terkumpul dan hendak berangkat, There mengaku ragu dan takut pergi. Soalnya, perempuan berangkat sendiri, agak riskan.

Akhirnya diputuskan untuk bermalam di rumah Agnes yang kebetulan dekat stasiun. Bersama Thersia dan Irma, There
menghabiskan malam dengan cerita-cerita.

Sampai dini hari, Agnes, Thersia dan Irma terus menghibur There. Tak sadar perut keroncongan hingga masing-masing sibuk memasak mi instan. Tatkala hendak memakan, tiba-tiba terdengar klakson mobil dari jalan bertalu-talu.

There berlari ke depan. Mengintip dari balik tirai. Ia kemudian berlari ke dalam. Ketakutan.

"Papaku... papaku datang!" ujarnya sambil menangis.

Tidak ada cara lain. Agnes membuka pintu. Langsung mencium tangan papa There dan mengaku salah.

There bahkan sujud. Minta maaf karena tak dapat memenuhi harapan keluarganya.

"Papa gak marah. Soal nilainya tidak maksimal, tak apa-apa. Yang penting kan lulus!"

Papanya sebelumnya menargetkan There minimal dapat nilai rata-rata 8,5 biar agar masuk ikatan dinas.
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments