Jumat, 29 Mei 2020
PDIPSergai Lebaran

curhat Frans Nababan - Siborongborong

Sabar di 2019 Kuat di 2020

redaksi Minggu, 29 Desember 2019 20:59 WIB
viva.co.id
Ilustrasi
Benar kata orang, sabar itu pelita hati. Maksudnya, orang sabar dapat lebih hati-hati mengambil keputusan karena apa-apa yang hendak diambil melewati pikiran yang benar-benar matang. Melalui analisis yang jernih.

Tetapi, hidup di jalanan tak selamanya mengandalkan kesabaran. Seperti aku. Ketika menghadapi oknum pengemudi becak atau sopir angkot. Jika sabar ngantre, selalu mandek di lampu merah dan kehilangan penumpang.

Sama seperti yang terjadi pada Selasa, 24 Desember. Pengendara becak modifikasi sepeda motor sekenanya menyeberang. Tepatnya memotong jalur. Mobil yang kukemudikan kadung masuk ke lajurnya. Ngegas dikit, tapi terlanjur menyerempet tenda dagangan si pengemudi becak.

Sambil teriak-teriak dan menuding-nuding wajahku, pengemudi becak membentak dan memaksaku untuk turun. Aku sih harus bertanggung jawab, tapi tak semata untuk urusan becaknya karena penumpang di kendaraanku pun banyak. Mereka butuh waktu lebih cepat agar sampai tujuan. Apalagi sudah menjelang malam. Aku harus menjamin keselamatannya.

Setelah memberhentikan kendaraan, aku nego. Bagaimana cara terbaik. Tapi tiba-tiba rekan-rekan pengemudi becak muncul. Tak hanya gaya bicara yang patentengan, tapi dengan bahasa kasar mengajakku duel.

Ia menuntut ganti rugi yang di luar akal. Aku menawar. Mulai dari aku yang membetulkan hingga membawa ke bengkel tapi kelompok abang becak terus ngotot. Masih saja ngajak aku duel.

Emosiku hampir meledak. Soalnya, gaya dan ucapannya benar-benar menyepelekan. Dalam hitunganku, sekali bogem, KO kau! Tapi, ah... aku teringat nasihat orangtua di bona pasogit, harus sabar.

Kuajak dialog, yang dibalas justru 'harus'. Harus ganti rugi. Jumlahnya di luar akal. Padahal, suer... aku tak punya uang. Berapa sih gaji sopir?

Hampir satu jam, meski kubujuk, tak juga menemui hasil. Kesabaranku hilang. Kuberi sejumlah uang yang menurutku sudah lebih dari biaya ganti rugi, tapi tetap saja ditolak. Mereka minta berlipat-lipat. Aku simpulkan, ini pemerasan.

Saat bersamaan, seorang datang. Orang itu tak kukenal tapi itikadnya sangat terpuji. Bahasanya santun, tapi menusuk.
Uang yang semula kusodorkan tapi ditolak, diambilnya. Diserahkannya pada abang penarik becak. Entah apa diutarakannya, tiba-tiba suaranya melemah.

Meski kesal, kupeluk si penarik Betor dan kubisikkan ke telinganya kata-kata maaf dengan tekanan nada memelas.
Sifat sabar itu kubawa ke 2020. Sabar itu kuat. (q)
T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments