Sabtu, 06 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

curhat Sarifah Yani Harahap - SMAN 2 Rantau Selatan, Rantauprapat

S e s a l

redaksi Minggu, 24 November 2019 19:11 WIB
wordpress.com
Ilustrasi
Aku memanggilnya Ai, sama seperti kawan-kawan sepaduan suaranya memanggil perempuan yang punya suara cetar membahana itu. Nama sesungguhnya Iren.

Pernah aku berpikir. Kalau personel choir itu memanggil orang sekelompok harus dengan suara merdu: Ai... Irene menuruti kemauanku. Namaku dijadikan jingle lagu. Kadang genrenya seriosa, kadang pop dan pernah didangdutinya.

Ai memang menyenangkan. Itulah yang membuatku dekat dengannya. Selain itu, ia juga care. Dengan ibuku sakit, Irene yang pertama kali hadir di ruang perawatan perempuan yang pernah melahirkanku.

Karena aku nangis melihat ibuku kesakitan dipasangi peralatan, Ai ikut menangis dan memelukku erat-erat. Melalui tangis, aku merasa menjadi satu dengannya. Padahal, aku dan Ai sangat berbeda.

Berbeda dari akidah, berbeda dari adat-istiadat. Aku dan Ai dipersatukan persaudaraan yang membuang sekat perbedaan. Pokoknya, aku dan Ai adalah satu. Ai dan aku adalah padu.

Itulah sebabnya, ketika di kantin sekolah Ai berdebat dengan Sukma, aku langsung membela. Lagi pula, Sukma itu terkenal dengan kesombongannya.

Sukma punya modal untuk angkuh. Anak orang kaya, berteman dengan sejumlah pesohor di Indonesia. Orangtuanya berpangkat. Tapi, ya itu tadi... sepele melihat orang lain. Apalagi yang berada di luar kelompoknya.

Hanya gara-gara saus bakso di kantin. Ai mengambil duluan dan kebetulan sausnya habis. Sukma menyindir-nyindir dan menuduh Irene menumpurkan.

Semua Ai senyum-senyum tapi karena terus dipojokkan, ia marah. Aku juga ikut-ikutan marah. Mentang-mentang orang kaya, langsung menuding-nuding Irena. Sudah kutekadkan, Ai itu adalah aku.

Syukur, pertengkaran berakhir dengan dama. Aku dan Ai menyalami Sukma. Setelah itu, aku fokus pada nenek yang lagi sakit.
Kali ini, aku menanti Ai. Dengaren Irene tak datang. Padahal ia tahu nenek sakit. Aku mengontaknya, yang mengangkat ibunya. Ibunya bilang Ai sakit.

Bener, sahabatku itu selalu mengeluh kalau di bagian ususnya sakit. Mungkin karena selalu telat makan. Apalagi jika ingin festival, Ai itu fokus latihan. Alasannya, baginya, ikut choir seperti kebaktian karena kidung yang dibawakan memuliakanNya.

Aku kagum dengan prinsipnya. Itulah yang membuatku ingin melihatnya tampil di festival tersebut. Ai pernah sakit-sakit tapi tampil di perlombaan.

Aku bersyukur, perjuangannya diganjar hadiah. Menyukuri kemenangannya, kami sama-sama berdoa.

Aku tak tahu, apakah Ai akan ikut perlombaan kali ini. Soalnya, ia masih sakit. Aku permisi pada ibu untuk melihat Ai tapi ibuku minta tolong mengambil obat ke kampung.

Alhasil, tujuan bertemu dengan Ai batal. Aku pun tak dapat menyaksikannya tampil di pentas lomba. Pulang mengambil obat, aku dengar Ai wafat. Kanker usus.(t)
T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments