Jumat, 05 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Rinta, Gadis Tunanetra Jawara Bikin Cerita Cinta

Minggu, 16 Februari 2014 13:16 WIB
SIB/Ist
Latifah Maurinta saat menerima hadiah dari Meneg BUMN Dahlan Iskan
Bandung (SIB)- Menjadi tunanetra bukan penghalang bagi Latifah Maurinta Wigati untuk menulis. Tak hanya artikel atau cerita pendek tapi juara bikin novel cinta. Siswi SMAN 6 Bandung berusia 16 tahun itu baru saja meraih juara pertama lomba penulisan artikel tentang energi alternatif.

"Sekarang lagi bikin novel serial, juga mau difilmkan," katanya saat ditemui Tempo di sela jam istirahat sekolah, Selasa, 11 Februari 2014.

Siswi berkerudung yang biasa disapa Rinta itu baru saja mendapat piala dan hadiah uang Rp 6 juta saat peringatan Hari Pers Nasional di Bengkulu, 8 Februari 2014.

Saat ditanya juri terkait dengan artikelnya tentang gas yang tidak efisien sebagai energi alternatif, ia mengaku kesulitan menjawab. "Menurut saya, tidak efisiennya karena masalah korupsi, sebagai contoh kasus yang terjadi SKK Migas itu," ujar gadis bertubuh mungil itu seperti disiarkan Tempo.Co.

Jawaban itu menurut dia tidak asal meluncur karena dia mengetahui perkembangan kasus tersebut dari berita di radio, televisi, juga Internet. Di rumah, komputernya dipasangi perangkat lunak JAWS (Job Access With Speech) 13 yang memungkinkan Rinta mendengarkan isi tulisan. "Sejak kelas 6 SD saya sudah suka menulis," kata bungsu dari tiga bersaudara tersebut.

Karangan cerita pendek sering ia kirim ke majalah Gema Braille. Adapun esai atau artikel ia pasang di blog hingga 2011. Selebihnya ia lebih sibuk menulis novel. Karya pertamanya berjudul Kematian Tidak Mengakhiri Cinta (2011), lalu buku Please Don t Leave Me, My Brother.

Pada buku terbitan Mizan yang dicetak berdasarkan permintaan atau pesanan sejak 2012 itu, ia memakai nama Rinta. Tahun lalu, meluncur bukunya yang lain, The Power of Sacrifice, dan novel serial I love You Because Allah setebal 633 halaman. "Ceritanya tentang kawan-kawan yang bersekolah di sini," ujarnya.

Bel sekolah berbunyi, tanda waktu istirahat tengah hari selama 15 menit berakhir. Rinta gelisah dan pamit ingin segera kembali ke kelas untuk bergabung dengan kawan-kawannya di kelompok nasyid.

Ia berjalan sendiri ke lantai dua tanpa ditemani kawannya seperti saat datang ke ruang tamu sekolah. Menurut guru bimbingan dan konseling sekolah, Lilia Aisyah, Rinta tergolong siswi aktif.

"Dia ikut empat kegiatan ekstrakurikuler dan sempat ikut latihan baris-berbaris kelompok pasukan pengibar bendera," ujarnya. (t/r9/q)
T#gs Tunanetra
LebaranDPRDTebing
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments