Sabtu, 06 Jun 2020
PDIPSergai Lebaran

Puisi

Puisi

redaksi Minggu, 08 Desember 2019 18:05 WIB
VoxNtt
Ilustrasi
Datanglah
Melangkahlah tanpa ragu karna aku sedang menunggu
Kau tak perlu berlari karna aku tak jauh dari tatapan matamu
Kau bisa menemukanku
Karna aku tak lagi bersembunyi
Lihatlah lalu tersenyum
Katakan kau berhenti untukku
Ceritakanlah keluh kesahmu
Bersandarlah di pundakku
Ku akan menjadi pondasimu yang tak akan pernah rapuh
Jangan lagi menoleh ke belakang
Karna aku hadir sebagai rindumu
Aku akan sepenuhnya menjadi taman yang menghiasi hidupmu
Tenanglah aku bukan pecundang yang tak berhati
Karna aku lagi belajar sempurna dalam mencintai
Tiarda Simarmata,
Lubuk Pakam

Tujuh Jam Lebih
Aliran darahku membiru di kala mendengar namamu
Air mataku membeku di kala diri ini melihatmu
Senyummu padanya melampaui seperseribu alam sadarku
Membuatku tahu bahwa dirimu lebih menginginkannya daripada diriku
Tujuh jam lebih mata ini menjadi milikmu
Tanpa kumengerti alasan akan hal itu
Bukan pentingku untuk memikirkanmu
Tapi raguku selalu saja mengharapkanmu
Tawamu lebih lebar di saat melihatnya
Matamu lebih indah di saat menatapnya
Diriku yang apa adanya tidak lebih dari sekedar orang biasa
Karena kumengerti bagimu dirinya lebih berharga bagaikan sebuah cita-cita
Anganku selalu saja menjadi yang terdepan karenamu
Tanpa ku sadar siapa diriku
Bukan lagi seperti dulu
Melainkan hanya sebuah masa lalumu
Paskah Rios Sembiring,
SMA RK Serdang Murni Lubuk Pakam

Hujan
Suara gemirik
berbentuk tetesan air
turun dari langit mendung
berawan dan segumpalan awan hitam
membasahi bumi
membuat genangan

Mian Rebecca M Panjaitan
SMP Budi Murni 1 Medan

Hujan
Setetes air membasahi bumi
untuk memberikan kesejukan
di tubuhku
air terus membasahi tubuh
membuat mengigil
wajahku pucat
tanganku terus mengerang
dari bibirku memiru
inikah namanya hujan
air yang turun dari langit
berhentilah hai hujan
pergilah bersama kesejukan yang mendatangkan gigil
datanglah bersama matahari yang menghangatkan
Desi Natalia Simbolon,
SMP Budi Murni 1 Medan

Mendung
Tak selalu hujan
awan mendung
dalam sekejap kau bisa merubah menjadi cerah
kau bisa menahan air mata yang akan kau keluarkan
dengan begitu, aku bisa belajar darimu
untuk tidak mengeluarkan air mata
di setiap rintangan
engkau bisa menutupi kesedihanmu
Awan dan mendung
terima kasih kauajarkan
tentang hidup
Imada Silalahi,
SMP Budi Murni 1 Medan

Termenung
Kududuk sendiri
tanpa seorang pun di sisi
kulihat ke atas
menatap langit yang diselimuti awan
dengan angin yang bertiup pelan
membuat suasana menjadi tenang
kutermenung, seperti memikirkan sesuatu
tapi pandanganku kosong
seakan aku tak mencecah di bumi
namun tiba-tiba awan menjadi gelap
dan mendung
angin berhembus kencang
petir menyahut, kenang
seketika aku tersadar
terlalu lama termenung
aku telah menyia-nyiakan waktu
yang berharga
hanya untuk melamun
Viselsa Simbolon
SMP Budi Murni 1 Medan


T#gs
LebaranDPRDTebing
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments