Rabu, 24 Jul 2019
  • Home
  • Sinar Remaja
  • Persiapan Kaum Milenial di Era Bonus Demografi Pada Revolusi Industri 4.0

Persiapan Kaum Milenial di Era Bonus Demografi Pada Revolusi Industri 4.0

admin Minggu, 21 April 2019 14:49 WIB
Robert Tua Siregar
Medan (SIB) -Dr Robert Tua Siregar MSi mengatakan, kaum milenial yang menjadi obyek bonus demografi belum maksimal pemahamannya mengenai makna besar yang didapat Indonesia dengan karunia tersebut. Bila kondisi tersebut terus berlangsung hingga masa bonus demografi, Indonesia tak hanya kehilangan momen tapi seperti membuang potensi tersebut dengan sia-sia. "Indonesia, khususnya milenialis harus mencontoh Rusia, Amerika Serikat dan Jepang yang memaksimalkan bonus demografi untuk kemajuan negara dan bangsanya," ujarnya saat menjadi pembicara dalam seminar nasional yang diadakan Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) diikuti pengukuhan kepengurusan ISRI Sumut dengan ketua Dr Nikous Soter Sihombing MHum di Grand Antares Hotel Medan, Jumat terkahir Maret 2019. Pengukuhan dilakukan Ketua Dewan Pimpinan nasional (DPN) ISRI Manaek Tua Hutabarat.

Robert Tua Siregar mengatakan, usia produktif sesuai standar PBB adalah yang berusia 15 - 64 tahun. Indonesia sampai 2030 berada di posisi tersebut di mana 180 juta jiwa dalam posisi produktif dan nonproduktif 60 juta. Lalu, apa yang dipersiapkan milenialis di era tersebut?

Langkah paling utama adalah meningkatkan kualitas diri. Di masa itu, dunia masuk dalam fasi Revolusi Industri 4.0 yang mengharuskan tiap individu memenangi persaingan kualitas berbasis teknologi, khususnya teknologi informasi. "Presiden Joko Widodo dan pemerintahannya sudah melakukan terobosan mendasar dengan menyiapkan infrastruktur teknologi. Yang punya minat dan bakat, harus ikut masuk dalam permainan teknologi itu," tegas mantan aktivis di Sumut di era 1998 tersebut.

Ia mencontohkan, kelompok milenial di Korea dan Jepang, pada umumnya menguasai teknologi. Memanfaatkan bonus demografi di era lampau, hingga kini terus menjadi pemenang. "Di Tiongkok pun demikian. Kaum milenial menggeluti teknologi, memroduksi hingga membuka lapangan kerja lebih maksimal. Sama seperti dengan di Korea Selatan. Milenial Indonesia pun pasti mampu, menggunakan teknologi menciptakan lapangan kerja. Jangan gunakan gadget hanya untuk bermedsos ria," tambah pria yang menjabat Direktur Pasca Sarjana Universitas Simalungun tersebut.

Ia mengatakan, saat pemerintah fokus pada pengembangan sumber daya bidang teknologi sebagai bukti siap menghadapai Revolusi Industri 4.0 maka anak-anak muda harus ikut bergegas. "Jangan terbuai dengan informasi hoax bahkan menjadi produsen hoax!"
Menurutnya, menolak hoax adalah satu bukti siap masuk ke Revolusi Industri 4.0 secara sehat. "Kelanjutannya adalah berpartisipasi positif. Anak-anak muda di Jakarta dan Bandung serta Yogyakarta, misalnya, telah memaksimalkan kemajuan teknologi untuk menambah kekautan ekonomi. Artinya, mereka telah membuka lapangan kerja baru dari tambahan penghasilan. Anak muda di Sumut, juga bisa," jelas Robert Tua Siregar sambil meminta orang Sumut yang sukses di Jakarta ikut menstimuli kelompok milenial di tanah kelahirannya.

Singkatnya, lanjutnya, bonus demografi harus diikuti pemilikan skil. (T/R9/h)
T#gs
Berita Terkait
Komentar
Komentar
Silakan Login untuk memberikan komentar.
FB Comments